Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam
KOMPAS Senin, 18-11-2002. Halaman: 4
Tanggal dimuat: 18 November 2002
Penulis:
Ulil Abshar-Abdalla
Bidang Kajian: Agama dan Isu-Isu Sosial

Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.

Saya melihat, kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung membeku, menjadi “paket” yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.

Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal harus diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk- bentuk Islam yang kontekstual itu hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.

Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam.

Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing agama.

Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.

Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu, itu adalah urusan manusia Muslim sendiri.

***
BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).

Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.

Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara nilai-nilai universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara “yang universal” dengan “yang partikular”.

Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”-nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain, dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.

Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh di Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu terus bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus berlangsung.

Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju perbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang Islam juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam.

Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran Islam oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak golongan lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri; yang harus di-“lawan” adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan tertentu.

Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat Islam hanyalah “baju” dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah nilai yang tersembunyi di baliknya.

Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan “baju” yang dipakai, sementara mereka lupa, inti “memakai baju” adalah menjaga martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.

Ada periode di mana umat beragama menganggap, “baju” bersifat mutlak dan segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi, pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.

***
MUSUH semua agama adalah “ketidakadilan”. Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan.

Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurut saya amat bersifat furu’iyyah. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang- undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan.

Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.

Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk kepada “hukum Tuhan” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya “hukum Tuhan”; kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri, bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya sendiri, dan seterusnya.

Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa ‘alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia “nanti”, juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan, dengan demikian, juga ikut berkembang.

Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat Islam, hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.

Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.

Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan. Jangan dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.

Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua bangsa.

Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara “Barat” dan “Islam”; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.

Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme, mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam lingkungan yang disebut “kami” itu, tetapi juga bisa di lingkungan “mereka”. Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.

Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam setiap lembaran “Kitab Suci” atau “Kitab-Tak-Suci”, lembaran-lembaran pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum sempat terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan, dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan umat Islam sepanjang sejarah.

Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.

Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah dalam menghayati jalan religiusitas itu.

Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.

Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu, maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.

Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.

ULIL ABSHAR-ABDALLA, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL),

Jakarta

~ oleh ibnuazka pada 17 September 2009.

7 Tanggapan to “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”

  1. Kesesatan Ulil Abshar Abdalla dalam Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

    Tulisan Ulil Abshar-Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta : “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” yang dimuat di Kompas pada tanggal 18 November 2002 mengandung banyak kekeliruan yang mendasar.

    Di situ Ulil menganggap bahwa Islam adalah satu agama yang dapat dirubah oleh manusia sesuai dengan perkembangan zaman. Ulil juga mengatakan bahwa ajaran-ajaran Islam seperti jilbab, potong tangan, qishas, dan lain-lain tak lebih dari budaya Arab yang tak perlu diikuti. Ulil menyatakan bahwa seorang perempuan muslim boleh menikahi pria non muslim serta semua agama adalah benar.

    Semua pernyataan Ulil di atas, bertentangan dengan perintah Allah yang tercantum dalam kitab suci Al Qur’an.

    Sesungguhnya pedoman ummat Islam adalah Al Qur’an:
    “Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS.Al-Baqarah:2).

    Karena itu, saya mengajak ummat Islam untuk mengkaji ayat-ayat Al Qur’an untuk mengetahui apakah pernyataan Ulil selaras atau bertentangan dengan Al Qur’an.

    Ulil:
    > SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup;
    > sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia.
    > Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu
    > dianggap sebagai “patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
    > …
    > Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai
    > denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.

    Pernyataan Ulil di atas bertentangan dengan ayat berikut:
    “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmut-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al Maidah 3).

    Jika agama Islam harus disesuaikan dengan hawa nafsu manusia, maka agama Islam harus disesuaikan dengan manusia yang mana? Sekarang ada sekitar 7 milyar manusia dengan ribuan paham dan aliran yang berbeda bahkan ada yang saling bertentangan satu sama lain, misalnya Kapitalisme, Liberalisme, Sosialisme, Komunisme, dan lain-lain. Agama Islam harus disesuaikan ke paham buatan manusia yang mana?

    Pada zaman Ibrahim, Raja Namrudz beserta ummatnya menyembah berhala, sementara pada zaman Fir’aun, Fir’aun mengaku sebagai Tuhan. Pada zaman jahiliyyah, membunuh anak perempuan adalah hal yang wajar, sementara pada kepercayaan tertentu, mengorbankan manusia untuk sesajen adalah hal yang sah dan berlaku umum. Apakah ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan manusia dan menganggap hal itu adalah benar?

    Seharusnya, ajaran Islam menjadi petunjuk bagi manusia. Bukan manusia yang jadi “petunjuk” bagi ajaran Islam, sehingga ajaran Islam dirubah-rubah seperti patung sesuai dengan hawa nafsu manusia:

    Memang dalam Islam dikenal ijtihad. Tapi ijtihad ini baru dilakukan jika ada masalah baru yang tidak diatur secara jelas dalam Al Qur’an dan Hadits. Misalnya apakah narkoba itu haram atau halal. Meski demikian, keputusan ijtihad itu biasanya selalu berdasarkan Al Qur’an dan Hadits melalui metode Qiyas. Contohnya, meski Narkoba tidak dilarang (karena waktu itu belum ada), tapi dengan ayat Al Qur’an yang melarang manusia berbuat kerusakan atau merusak dirinya serta tidak boleh mubazir, maka Narkoba otomatis dilarang karenanya.

    Begitu pula dengan musyawarah. Untuk satu masalah yang tidak diatur secara detail oleh Al Qur’an dan Hadits, misalnya mencari bisnis apa yang baik atau bagaimana mengatur strategi peperangan, maka Nabi dan para sahabat biasa bermusyawarah:

    Orang-orang yang mematuhi seruan Tuhan mereka, melaksanakan shalat (dengan sempurna), serta urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antar mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (Al-Syura: 38)

    Tapi jika di Al Qur’an dan Hadits sudah jelas disebutkan, tidak boleh manusia melanggarnya (misalnya perempuan muslim menikah dengan pria non muslim)

    Ulil menganggap jilbab, potong tangan, qishash, dan lain-lain adalah budaya Arab yang tak perlu diikuti, padahal hal tersebut merupakan perintah Allah yang tercantum dalam Al Qur’an:
    > Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah
    > diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib
    > diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.

    Pernyataan Ulil bahwa jilbab adalah kebudayaan Arab dan bukan ajaran Islam yang harus dituruti bertentangan dengan Al Qur’an dan sejarah yang ada.

    Pada zaman Jahiliyyah, kaum perempuannya biasa mengenakan pakaian tipis, ketat dan mengumbar aurat. Contohnya masih terdapat pada para penari perut Mesir yang cuma mengenakan BH serta cawat yang mengumbar aurat.

    Oleh karena itulah Allah menurunkan ayat agar ummat Islam mengenakan jilbab agar tidak mengumbar aurat seperti yang dilakukan oleh perempuan jahiliyyah:

    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka…” (An Nuur:31)

    “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu….” (Al-Ahzab: 33).

    Tabarruj adalah perilaku mengumbar aurat atau tidak menutup bagian tubuh yang wajib untuk ditutup yang dilakukan perempuan jahiliyyah.

    Perintah mengenakan jilbab, maksudnya untuk menjauhkan manusia dari perbuatan zina serta menjaga agar para remaja maupun anak-anak tidak rusak moralnya karena melihat para wanita yang berpakaian mini dan merangsang.

    Qishash juga merupakan aturan yang diturunkah oleh Allah dalam Al Qur’an:
    “Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 179)

    Hukum Qishash diturunkan Allah SWT agar manusia bisa hidup tenang dari ancaman pembunuh.

    Demikian pula hukum potong tangan bagi pencuri, meski jika tak mencapai nisab (jumlah curian minimal) atau pada kondisi tertentu (terpaksa) seorang pencuri bisa terhindar, jelas tercantum dalam Al Qur’an. Ini bukan “budaya Arab” seperti yang dikatakan Ulil:

    “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Maa-dah:38)

    Jika perintah potong tangan bagi pencuri ini diterapkan, tentu para ibu-ibu yang belanja di pasar akan aman dari para copet atau pun para penodong.

    Ulil mengatakan jilbab itu adalah pakaian menurut standar kepantasan umum, tak perlu mengikuti aturan Al Qur’an:
    > Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu.
    > Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum
    > (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai
    > perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.

    Tulisan Ulil di atas sangat relatif dan membingungkan. Di Barat, wanita memakai celana hipster dan terlihat pusarnya atau memakai rok mini sehingga pahanya terlihat itu pantas saja. Di pantai-pantai, perempuan memakai bikini atau cawat dan BH juga adalah hal yang pantas menurut manusia, sehingga para Miss Universe pun mengenakan hal itu. Bahkan di satu pemandian umum di Bali, laki dan perempuan berenang telanjang bulat adalah hal yang pantas di sana menurut manusia. Di Irian Jaya, pria pakai Koteka atau wanita telanjang dada memenuhi standar kepantasan umum di sana. Jika menurut pernyataan Ulil, maka hal di atas adalah hal yang wajar-wajar saja…

    Adakah ajaran Islam yang telah memerintahkan para perempuan untuk mengenakan jilbab (satu pakaian yang menutupi seluruh aurat tubuh, tidak tipis, tidak ketat, dan tidak berlebihan) tidak perlu diikuti, tapi kita harus mengikuti “perintah” Ulil di atas?

    Jika yang harus diikuti adalah “kepantasan umum” yang berubah-rubah sesuai keinginan manusia, bukan ajaran Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan hadits, maka praktek homoseksual, lesbianisme, sex bebas, pelacuran, perjudian dan sebagainya adalah halal dan sesuai dengan ajaran “Islam.” Padahal Allah SWT di Alkitab maupun di Al Qur’an disebutkan menghancurkan kota Sodom karena mereka melakukan praktek homoseksual.

    Masyarakat (terutama di Negara-negara Barat), menganggap pelacur bukanlah pekerjaan yang hina. Bahkan di sini pun para pelacur sekarang disebut sebagai “Pekerja Seks,” tak berbeda dengan pekerja lain seperti Dokter, Karyawan, Guru, dan lain-lain. Padahal dalam Al Qur’an Allah melarang manusia untuk mendekati zina, apalagi melakukannya!

    Ulil mengatakan wanita Muslim boleh menikah dengan pria Non Muslim, padahal di Al Qur’an hal itu jelas dilarang:
    > Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki
    > non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah dengan tegas
    > melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal tentang martabat manusia
    > yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala produk hukum Islam klasik
    > yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan non-Islam harus diamandemen
    > berdasarkan prinsip kesederajatan universal dalam tataran kemanusiaan ini.

    Pernyataan Ulil yang mengatakan bahwa perempuan Muslim boleh menikah dengan lelaki Non Muslim jelas bertentangan dengan Al Qur’an:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir, mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al Mumtahanah: 10)

    “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebe-lum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke Neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqarah: 221).

    Ulil mengatakan bahwa hukum Allah itu tidak ada, padahal dalam Al Qur’an ditegaskan yang tidak mau mengikuti hukum Allah adalah kafir, fasik, dan sebagainya, apalagi yang tidak mengakui keberadaannya:

    > Menurut saya, tidak ada yang disebut “hukum Tuhan” dalam pengertian seperti
    > dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian, jual
    > beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah prinsip-prinsip
    > umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum Islam klasik disebut
    > sebagai maqashidusy syari’ah, atau tujuan umum syariat Islam.
    > …
    > Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah
    > organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, maka agama
    > juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada
    > adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena manusialah stake holder yang
    > berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.

    Pernyataan Ulil yang yang mengatakan bahwa tidak ada Hukum Tuhan atau Hukum Allah serta yang ada dan harus diikuti adalah hukum manusia, jelas bertentangan dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an yang telah saya sebut di atas. Padahal Allah SWT menegaskan, bahwa mereka yang tidak memutuskan menurut hukum Allah adalah kafir:

    ” Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44)

    “Dan telah kami tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-lukapun ada qisasnya., maka melepaskan hak itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah oraang-orang yang zhalim.” (QS. Al Maidah: 45)

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka ingin berhukum kepada thagut (hukum buatan manusia), padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thagut itu. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu tunduk kepada (hukum) yang allah turunkan dan kepada (hukum) Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dari (mengikuti) kamu dengan sekuat-kuatnya.” (An-Nisaa: 60-61)

    Pada pernyataannya di bawah, Ulil meragukan Rasul Muhammad SAW sebagai contoh, karena banyak juga kekurangannya, serta Islam yang diwujudkan oleh Nabi hanyalah histories, particular dan kontekstual. Selanjutnnya Ulil malah mengajak untuk mencari kebenaran di ajaran Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Yahudi, Tao, bahkan Marxisme!

    Bayangkan, belajar agama Islam secara menyeluruh saja, ummat Islam banyak yang tidak sanggup, apalagi kalau harus mempelajari semua agama atau isme seperti yang “disabdakan” Ulil!

    Ulil:
    > BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran
    > semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus
    > dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa
    > memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya),
    > sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).
    >
    > Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan
    > dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah,
    > Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan
    > cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan
    > di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual.
    >
    > Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun tempatnya,
    > sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan
    > sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha,
    > Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi,
    > kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.

    Allah telah menegaskan bahwa pada Rasulullah itu adalah teladan bagi ummat Islam:

    “Sungguh telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak ingat kepada Allah”, Qs al-Ahzab,33:21.

    Pada akhirnya, Ulil mengatakan semua agama sama benarnya:
    > Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak
    > pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku,
    > jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19),
    > lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar
    > adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha
    > Benar).”
    >
    > Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat
    > berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama,
    > dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang
    > berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu
    > keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak
    > pernah ada ujungnya.

    Hal ini jelas bertentangan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa agama yang diridhai Allah adalah Islam:

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Al-Imran 19).
    “Barang siapa mencari agama selain agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-Imran 85).

    Jika Allah SWT berfirman agama yang diridhai Allah hanyalah Islam, kemudian Ulil bilang semua agama sama benarnya, manakah yang harus kita ikuti: Allah SWT Tuhan semesta Alam, atau Ulil, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)…???

    Bahkan dalam ayat An Nisaa:171, Allah menegur Ahli Kitab karena menyembah Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan:

    “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An Nisaa:171)

    “Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS 5:78)

    Ayat Al Bayyinah 1-6 menjelaskan bahwa Ahli Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani) yang mengingkari Nabi Muhammad dan Al Qur’an sebagai orang yang kafir dan akan masuk neraka, bukan surga sebagaimana pendapat segelintir orang:

    “Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an), di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
    demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al Bayyinah:1-6)

    Toleransi antar ummat beragama memang harus dijalankan, karena Allah SWT berfirman bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

    “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat?.? (Al Baqoroh:256)

    Tapi itu tak berarti semua agama adalah benar. Yang betul adalah, setiap agama benar menurut keyakinan masing-masing pemeluknya. Dalam surat Al Kafiruun dikatakan “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”

    Pemeluk agama Budha tentu yakin agama Budha lah yang paling benar. Pemeluk agama Kristen tentu yakin agama Kristen lah yang paling benar. Pemeluk agama Islam tentu yakin agama Islam lah yang paling benar. Jika kita tidak menganggap agama kita paling benar, tentu kita pindah ke agama lain yang lebih benar bukan? Atau jika semua agama sama benar, tentu kita bisa berpindah-pindah agama setiap saat.

    Jika semua agama beranggapan semua agama adalah benar, untuk apa ada lembaga dakwah atau missionaries Kristen yang mengajak setiap orang untuk ke agamanya masing-masing? Jika benar semua agama adalah benar, kenapa Ulil tidak masuk agama lain saja, misalnya agama Kristen dan bikin aliran Kristen Liberal? Jadi para ulama tidak perlu memberi fatwa mati bagi Ulil.

    Meski harus ada toleransi dan saling menghargai antar ummat beragama, tapi tetap ada batas yang harus kita hormati.

    http://swaramuslim.net/more.php?id=197_0_1_0_M
    Oleh : Somad Karim 01 Jan 2003 – 1:00 am

  2. Menyegarkan Kembali Pemahaman “Islam” Kita Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
    05 Mar 2005

    Oleh: Syamsi Ali

    Sdr. Ulil Abshar-Abdala, dalam sebuah artikelnya yang dimuat harian Kompas beberapa waktu lalu, menyampaikan ide-ide yang dianggapnya baru dan segar. Seolah pemikiran yang berseberangan dengan idenya adalah ide mati (monumen mati), sementara ide Ulil adalah ide yang hidup.

    Pada tataran ini saja sebenarnya, terlihat sebuah arogansi dan penghakiman terhadap pihak lain, oleh justeru orang menganggap dirinya menghormati proses demokrasi dalam dunia intelektualitas. Saya yakin, pada sikap dan cara berfikir Ulil telah terjadi kontradiksi yang jelas, sehingga dengan sendirinya hanya menggambarkan “keputusasaan” dan sebenarnya “tingkat emosional” yang cukup tinggi.

    Kita sadari, sejak awal 70-an pun golongan yang merasa Muslim liberal di negara kita telah melakukan berbagai upaya untuk mengkampanyekan ide dan pemikiran mereka. Barangkali polemik antara Prof. Harun Nasution dengan Prof. Rasyidi, juga lemparan ide-ide yang mengejutkan dari Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid serta Munawir Syadzali, dll., merupakan contoh kongkrit dari upaya-upaya terdahulu itu.

    Gebrakan-gebrakan Nurchalis Majid di tahun 80-an sebenarnya memiliki nuansa politis yang cukup besar ketika itu. Bahwa di satu sisi dengan ide demikian, beliau berhasil melunakkan atau mungkin upaya menghindarkan “tabrakan” antara pergerakan Islam dengan kekuasaan Orba di bawah kendali Kelompok anti Islam. Pada sisi lain juga dimaksudkan sebagai upaya pribadi Cak Nur untuk mendapat “legalisasi” (pengakuan) bagi diri dan kelompoknya.

    Sementara itu, Gus Dur sendiri melakukan kampanye-kampanye pemikiran liberalis untuk tujuan sekali mendayung dua pulau yang dituju. Bahwa dalam kerangka legalisasi pribadi dan kelompoknya, juga ditujukan untuk memberikan “kesenangan” kepada mereka yang kurang senang dengan pergerakan Islam saat itu. Maka seringkali di satu sisi Gus Dur nyelonong ke kuburan-kuburan keramat, duduk dengan kyai yang bersorban dan bersarung dengan sandal jepit, namun di satu sisi juga bergandengan tangan dengan jenderal yang tangannya berlumuran dengan darah umat Islam.

    Posisi Gus Dur sendiri dalam kaitan ini sangat aneh. Bahwa di satu sisi mendakwahkan “sekularisme” dengan terang-terangan, namun dalam melakukan gebrakan politiknya tidak tanggung-tanggung menggunakan simbol-simbol keagamaan. Barangkali kita masih diingatkan oleh semangat ‘jihad’ untuk membela Gus Dur jika dijatuhkan dari kedudukannya sebagai Presiden RI. Sebuah sikap dan realita yang kontradiktif, karena jihad adalah “terminologi agama” yang dipakai untuk kepentingan politik. Hal ini sekaligus menyatakan bahwa pendukung “ide sekularisme” sebenarnya setengah hati dan tergantung kemanfaatan/interest duniawi

    Fakta di atas mengingatkan saya, bahwa ketika seorang muda semacam Ulil bersemangat seperti ini, juga tidak terlepas dari kepentingan duniawi di belakangnya. Mungkin saya tidak perlu mendetailkan, apa dan bagaimana “interests” tersebut, tapi pada tataran filosofis sekalipun mengatakan demikian (lihat Al Qur’an: 45-35). Betapa kecenderungan untuk tidak menseriusi agama ini banyak terkait oleh motivasi duniawi.

    Tuduhan Ulil yang mengatakan bahwa para penganut faham “Islam sempurna” selalu menawarkan hitam putih “take it or leave it” adalah dakwaan yang diada-diadakan. Sebab jika terjadi demikian, bukannya Ulil yang perlu menentang sikap dan cara berfikir demikian, melainkan Allah sendiri yang melakukannya. Al Quran sendiri dalam berbagai tempat dan cara selalu menantang alam intelektualitas Muslim dalam upaya memahami ajarannya. Kata terbanyak dalam Al Qur’an setelah kata “Allah” itu sendiri adalah kata “ilmu” dalam berbagai bentuknya. Sehingga konsekwensi wajar dari semua itu adalah bahwa Islam hanya bisa “diambil” atau diamalkan jika didasarkan kepada pemahaman yang benar dan sejati.

    Barangkali sejarah membuktikan, Rasulullah SAW telah merubah perilaku jiwa dan raga pengikutnya ketika itu dengan sebuah pendekatan yang “Rabbany” yang didasarkan pada pemahaman dan kesadaran individual (al wa’yul fardy), sehingga pada tataran implementasi hukum semua berjalan atas dasar “volunteerism”. Kisah perempuan yang berzina dan menghadap Rasulullah untuk dirajam barangkali contoh kongkrit dari semua ini. Kisah pengharaman “minuman keras” juga menjadi catatan sejarah yang agung.

    Dengan demikian, tuduhan bahwa dalam upaya mengamalkan Islam secara konsisten, paripurna dan sungguh-sungguh sekarang ini ditempuh dengan cara-cara “otoriter” adalah keliru. Walau mungkin dalam prakteknya ada yang memperlihatkan cara-cara demikian, tapi wajarkah kemudian Islamnya sendiri yang dikorbankan? Kecenderungan memaksa, otoriter dalam bersikap adalah perilaku individu yang mungkin banyak dilatarbelakangi oleh kecenderungan-kecenderungan eksternal. Tapi Islam sendiri tidak pernah mengajarkan “hitam putih” sebagaimana klaim Ulil tersebut.

    Pemaksaan tidak pernah dikenal Islam dan tanpa didahului dengan upaya-upaya pendekatan Rabbany (biasa diistilahkan kelompok Ulil sebagai pendekatan humanis) terlebih dahulu. Bagaimanapun kita sadar, hirarki penyampaian Islam ini melalui tiga tahap yang tidak terpisahkan; tabligh, takwin dan tanfidz. Proses tabligh adalah proses yang berputar-putar di tempat jika tidak ditindaklanjuti dengan proses takwin. Sementara pelaksanaan Islam (tanfidz) adalah sesuatu yang absurd jika tidak didahului oleh upaya “pentakwinan”. Proses inilah yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW. Dan proses inilah yang memperlihatkan buah generasi Qur’ani dengan peradaban Qur’ani, yang buah-buahnya masih dicicipi oleh umat manusia di dunia barak khususnya saat ini.

    Isu Pertama: Penafsiran non-literal Saya setuju dengan Ulil bahwa penafsiran harus non-literal sifatnya. Kata tafsir itu sendiri mengandung makna “pemahaman dari sebuah teks” dan bukan makna teks itu sendiri. Dengan demikian, ketika Ulil mengatakan penafsiran non-literal, sebenarnya terjadi “pengulangan dua kata” (redundant), karena tafsir berarti “pemahaman non-literal”.

    Dengan demikian kata “tafsir” itu sendiri sudah mengindikasikan makna “non-literal”. Menafsirkan artinya memahami “wujuuh al ma’aany” dari teks yang berupaya difahami. Sehingga “wujuuh” (kemungkinan-kemungkinan) makna sudah menjelaskan dengan sendirinya posibilitas perbedaan pemahaman dari mereka yang berupaya memahaminya. Dan inilah nilai dasar demokrasi dalam Islam, yang sejak zaman dulupun telah dipraktekkan dengan penuh kesadaran oleh para sahabat Rasulullah SAW.

    Namun demikian, perlu disadari bahwa Islam selain memiliki pintu-pintu “pemahaman” yang beragam, juga terdapat “pintu utama” (main gate) pemahaman yang mengikat pintu-pintu yang lain. Artinya, silahkan memakai “pintu” samping, kanan,kiri, belakang, dll., tapi tetap menuju kepada ruang yang diperbolehkan. Jangan memasuki pintu belakang misalnya, tapi bertujuan memasuki “private room” karena anda mungkin justru melakukan pelanggaran yang luar biasa.

    Amerika Serikat adalah negara demokrasi yang memberikan peluang sama kepada imigran untuk datang ke negara ini. Tapi untuk masuk ke negara AS, perlu persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Artinya, kebebasan dan demokrasi tidak akan pernah disamakan dengan “seenak perut” dalam melakukan apa saja.

    Realita ini juga berlaku dalam upaya memahami ajaran agama ini. Semua manusia, baik yang mengimaninya atau yang mengkafirinya, memiliki hak dan kebebasan untuk memahaminya. Dan pendekatan yang dipakai pun boleh bermacam-macam, termasuk pendekatan spiritualistik oleh kalangan ahli tasawuf, pendekatan rasionalitas oleh para cendekiawan, pendekatan hukum formal oleh para ahli fiqh, dll. Namun pemahaman dengan berbagai ragam cara ini, tetap mengacu pada “main gate” Islam, yaitu tidak menginjak-injak kesempurnaan ajaran Islam itu sendiri. Atau yang lebih tragis, dengan menafikan eksistensi ayat-ayat Al Qur’an itu sendiri, sehingga cenderung dilihat sebagai tulisan yang sebenarnya hanya “valued” dalam peradaban padang pasir.

    Kita ambil kasus jilbab misalnya. Masalahnya jelas, karena secara tekstual disebutkan secara gamblang dalam Al Qur’an. Hadits Rasulullah juga menjelaskan hal ini, khususnya kasus Asma datang kepada Rasulullah SAW. Walau tidak mengikat, khususnya bagi kaum liberalis, semua ulama terdahulu mewajibkannya. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Akankah difahami dengan pemahaman yang beragam? Silahkan, asal jangan menafikan adanya kewajiban tersebut, karena kewajiban memakai jilbab adalah “main gate” dari memahami ayat tersebut. Keragaman pemahaman tetap mengacu pada “main gate” yaitu kewajiban memakainya. Keragaman faham berkisar pada teknis pelaksanaannya, semisal bentuk, warna, model, dll. Menafikannya berarti telah meniadakan kemungkinan “berbeda faham”, sebab apa yang diperbedakan jika telah ditiadakan seperti keinginan Ulil?

    “Public decency” atau kepatutan umum yang disampaikan Ulil terlalu “naif”, karena kalau semua memakai standar “public decency”, maka tentu akan membawa kepada situasi “chaotic” yang tak berujung. Saya masih ingat, dua tahun lalu di Kanada kaum wanita protes karena mereka diharuskan memakai BH ketika berada di tempat-tempat publik pada musim panas, sementara kaum pria tidak. Untuk itu, mereka meminta agar mereka juga diizinkan bisa berjalan di pinggir pantai, di jalanan raya, di toko-toko tanpa BH. Kalau seandainya diizinkan oleh pengambil kebijakan ketika itu, lalu menjadi praktek umum, akankah hal ini dianggap sebagai “kepatutan umum” oleh Ulil?

    Dalam sebuah “Springer show” diperlihatkan seorang ibu menangisi anaknya karena masih berumur 8 tahun, namun pakaiannya dan penampilannya menjadi atraksi yang memalukan. Namun anak itu dengan sigap mengatakan bahwa “what is wrong with that?. Is there any rule forbids me to wear such dress?”.

    Dalam sebuah instansi, pemerintahan atau swasta misalnya, mengharuskan pegawainya memakai pakaian tertentu. Anda ingat, betapa gerahnya seseorang executive muda di Jakarta naik bus umum tanpa AC dengan dasi di lehernya. Namun karena hal itu adalah sebuah kewajaran dari proses kemasyarakat hukum, maka ia mesti memakainya. Bahkan sebuah perusahaan mengharuskan pegawai wanitanya untuk memakai pakaian yang setengah “you can see”, karena itulah cara untuk menarik para costumer/pelanggan.

    Untuk mendekatkan pemahamannya Ulil, konon kabarnya isterinya adalah seorang anak Kyai yang cukup terkenal lagi beragama. Apakah cara berpakaian isterinya Ulil yang cukup sopan karena “standar” kepatutan setempat, atau memang karena sebuah kesadaran akan nilai religiusitas. Alangkah risinya seorang isteri atau anak kyai memakai pakaian yang hanya relatif menutupi “genital” di jalanan umum. Akankah dikatakan “pantas” secara sosial, jika isteri Ulil jalan-jalan di pusat pertokoan Jakarta dengan hanya memakai celana dalam, walau itu misalnya sudah menjadi “trendy” atau patut secara sosial. Demikian seterusnya, dapat dikembalikan pada kesadaran dan hati nurani sebenarnya.

    Dengan demikian, sebuah aturan itulah yang seharusnya menjadi ukuran “kepatutan umum”. Manusia pada dasarnya memerlukan aturan, dan aturan itulah yang menentukan kepatutan umum baginya. Sesuatu yang menyalahi aturan, sesungguhnya tidak patut dikatakan sebagai “public decency” tapi sebaliknya dilihat sebagai sebuah pelanggaran publik. Untuk itu, aturan pakaian bagi wanita Muslimah dengan jilbab adalah standar kepatutan umum di masyakat Muslim. Kalau sekiranya ada yang masih belum memakai, hal ini bukanlah alasan untuk menafikannya dari status hukum, melainkan karena kelemahan kita masing-masing. Toh, shalat saja yang merupakan Rukun Islam kedua masih banyak yang belum melakukannya secara konsisten.

    Sekali lagi, ijtihad yang diperbolehkan adalah ijtihad untuk mencari formula teknis, termasuk cara pemakaian, model, warna, dll. Namun ijtihad dalam upaya “menafikan”nya dari standar hukum bukanlah sebuah ijtihad, melainkan upaya perusakan “standar” kepatutan umum (hukum). Sebuah upaya pemahaman yang tidak bertanggung jawab, sekaligus penempatan kepintaran pada tempat yang melanggar. Sekali lagi, penafsiran dalam Islam tidak pernah ditujukan sebagai tujuan untuk “menafikan” eksistensi aturan yang ada alias “pengingkaran”.

    Isu Kedua: Islam antara Nilai Dasar dan Kreasi Budaya Lokal Islam hanya satu. Islam dalam istilah Al Qur’an adalah “Laa syarqiyah laa gharbiyah”. Celupan Islam untuk kehidupan itu adalah yang terbaik (Wa man ahsanu minallahi Shibghah?). Barangkali yang dimaksudkan oleh Ulil adalah “metode pendekatan” itu bisa beragam, namun Islam itu adalah agama universal yang tidak terkotak-kotak dengan pengkotakan etnik dan nasionalitas.

    Pertanyaan mendasar sebenarnya adalah, bagaimana kita menempatkan Islam ini dalam kerangka budaya lokal. Islam adalah “muhaemin” (wa muhaeminun ‘alaihi), artinya bahwa Islam itu datang untuk menundukkan semua bentuk “perilaku manusia” yang kerap disebut tradisi dan budaya, jika ternyata tradisi dan budaya tersebut menentang ajaran Islam yang datang. Bukan sebaliknya, justeru Islam dianggap sebagai sumber budaya/tradisi lokal itu sendiri.

    Rasanya terlalu naif bagi Allah untuk menurunkan ayat-ayat Al Qur’annya, dan kemudian ternyata apa yang dikandung oleh ayat-ayat itu hanya sebuah ekspresi budaya lokal. Pemahaman ini sekaligus menentang tabiat Islam yang universal dan ditujukan untuk seluruh umat manusia. Akan terlalu kecil “tugas” dan “tujuan suci” Al Qur’an kalau hanya datang dengan pesan-pesan lokal.

    Contoh-contoh yang disebutkan oleh Ulil menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap agamanya itu sendiri. Sebab pemberian contoh tidak membeda-bedakan mana sesungguhnya yang diwajibkan secara fundamental, dan mana yang memang tradisi lokal. Kasus jilbab tidak mungkin disamakan dengan kasus memakai jubah bagi lelaki, karena memang statusnya hukumnya dalam agama berbeda. Demikian pula masalah-masalah hukum pidana adalah “ceroboh” jika didudukkan dengan hukum memelihara jenggot misalnya. Pencampuradukkan ini sesungguhnya menunjukkan betapa Ulil memang sudah tidak peduli dengan masalah-masalah agama. Ulil hanya bersemangat menjustifikasi apa yang dilihat oleh orang lain sebagai “kebekuan”. Jadi sebenarnya Ulil sendiri sepertinya hanya penyambung lidah dari orang lain (???).

    Masalah-masalah hukum pidana (qishas, potong tangan disebutkan oleh ayat al Qur’an dan rajam oleh hadits, kecuali bahwa penzinah yang belum nikah dihukum dengan didera), adalah masalah-masalah yang jelas. Sebagai seorang Muslim yang sejati, ijtihad dalam hal-hal yang digariskan oleh al Qur’an adalah wajar, tapi bukan untuk mengingkarinya. Malainkan mencari formulasi praktis dalam upaya melakukannya. Sangat disayangkan Ulil dan pengikut madzhabnya berijtihad justeru untuk menafikan eksistensinya. Dan inilah bentuk ijtihad yang tidak bertanggung jawab karena ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional.

    Memang sekarang ini terasa, seolah upaya penegakan Syariat Islam ternyata hanya dikaitkan dengan masalah-masalah pidana. Seolah Syariat Islam itu hanya menyentuh potong tangan, rajam, qishas, dll. Padahal, masalah-masalah pidana dalam Islam adalah masalah-masalah yang datang kemudian. Artinya, terjadinya potong tangan itu karena kegagalan dalam “mempraktekkan” Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Jika perekonomian “dzalim” yang diterapkan, di mana si miskin semakin miskin, si kaya dan kuat semakin semena-mena, maka Syariat Islam pasti meng-address masalah-masalah ini terdahulu. Ingat, pada zaman Umar seorang perempuan (janda) miskin yang banyak anak mencuri. Umar justeru memarahi tetangganya yang mampu tapi tidak memberi perhatian. Beliau justeru memberikan “support” agar bisa menghidupi keluarganya tanpa melakukan pelanggaran. Inilah wajah syariat Islam sesungguhnya. Persepsi orang banyak, termasuk Ulil, tentang Syariat islam menunjukkan “ketidakpedulian” atau memang “kejahilan” akan agamanya sendiri.

    Masalah jilbab barangkali sudah saya jelaskan terdahulu. Namun masalah baju jubah (tentunya untuk lelaki) adalah masalah memang tidak pernah dilihat dalam Islam sebagai suatu keharusan. Memakai janggut adalah “sunnah” sesuai tingkatan perintahnya. Memakainya adalah “kerelaan” untuk mendapatkan nilai pahala yang lebih, jika mampu. Yang salah dalam masalah sunnah kalau itu ditingkatkan kepada tingkat “kewajiban”. Atau menilai ketakwaan seseorang dari lebat tidak janggutnya. Masalahnya memang, jangan semrawut dalam menempatkan “masalah-masalah” umat, di mana janggut kadang dilihat lebih penting dari “menyelamatkan” seorang pelacur dari pelacuran dengan membangun sistim perekonomian yang adil.

    Saya menilai bahwa keresahan Ulil dan groupnya, karena disangka dengan memberlakukan Syariat Islam akan membawa kepada keterbelakangan dan keterkungkungan. Pada dasarnya, jika pelaksanaan semua aturan dilakukan secara proporsional, tepat dan sesuai prosedur hukum itu sendiri pasti tidak akan dirasakan sebagai suatu beban. Aturan-aturan Islam bukan bertujuan untuk memberatkan, justeru dihadirkan sebagai “solusi” terhadap berbagai kebekuan hukum manusia yang ada. Hukum Islam dilandaskan pertama kali kepada “keimanan”. Dan keimanan itu adalah kesadaran tertinggi (highest consciousness) yang dimiliki seseorang. Untuk itu, persepsi “keterpaksaan” dalam melaksanakan ajaran Allah, memakai jilbab misalnya, adalah persepsi yang misguided. Seharusnya jika non Muslim menilai pelaksanaan hukum Islam sebagai keterpaksaan, mungkin masih bisa difahami, karena mereka memang “ignorants” dengan ajaran ini. Tapi kalau yang berpersepsi demikian adalah Ulil, tentu dipertanyakan sampai di mana dia memahami “nature” ajaran agama ini.

    Isu Ketiga: Universalisme Manusia Di sini sekali lagi terlihat sikap kontradiktif dari Ulil. Di satu sisi mengkampanyekan “keragaman” dan “perbedaan-perbedaan” dalam kerangka universalisme, namun di satu sisi seolah mengingkari adanya perbedaan dalam universalitas manusia. Manusia itu satu dan bersumber dari Yang Satu melalui satu manusia (Adam). Tapi Al Qur’an kemudian menyampaikan kenyataan, “dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa”, suatu bentuk keragaman pada masa itu. Artinya, tanpa melupakan “nature” universalisme tersebut, namun juga perlu diakui adanya perbedaan-perbedaan di antara manusia itu sendiri.

    Perbedaan bukan diciptakan untuk bermusuhan dan membenci. Tapi diciptakan untuk kerangka menejemen kehidupan, menuju kepada arah yang lebih baik. Salah satu bentuk perbedaan itu, sebagai salah satu kerangka kedinamisan hidup, adalah perbedaan agama dan keyakinan. Pada semua agama dan keyakinan, ada aturan-aturan formal yang harus dipegangi sehingga agama dan keyakinan tersebut lestari eksistensinya. Jika tidak, maka sebuah agama akan lebur dan akhirnya tidak memiliki eksistensi, walau barangkali masih dianggap esksis di tengah-tengah masyarakat.

    Untuk itu, dalam perkawinan misalnya, pada agama Katolik tidak diperkenankan untuk menikahi pasangan dari agama lain, baik itu seorang pria menikahi wanita beragama lain ataupun seorang wanita menerima lamaran dari pria beragama lain. Aturan ini juga sebenarnya ada pada agama Yahudi misalnya, dan seterusnya. Masalahnya, dari sekian banyak agama yang menganut aturan ini, nampaknya Islamlah yang konsisten dengan aturannya.

    Apakah aturan ini melanggar nilai “universalisme” manusia? Saya yakin tidak sama sekali. Sedangkan pada tataran logika manusia saja, mencari pasangan itu tidak lepas dari pertimbangan-pertimbangan masa depan. Seorang Muslim sadar, menjaga generasi agar tetap Muslim itu adalah sesuatu yang harus. Anak adalah “amanah” yang harus dijaga agar tetap Muslim di masa depan. Untuk itu, adalah sangat logis jika seorang pasangan akan mencari pasangannya dengan “wawasan” penjagaan generasi tersebut. Akankah Ulil rela anaknya yang selama ini telah diajar Al Qur’an, shalat, serta ibadah lainnya dinikahi oleh seorang pria katolik misalnya. Akankah Ulil sudih melihat cucu dari anaknya yang selama ini diajarkan shalat, kini ikut beribadah setiap minggu di gereja misalnya? Saya mengajak Ulil untuk kembali ke nuraninya.

    Manusia sesungguhnya bisa dinilai sebagai manusia karena 3 hal; fisikal, spiritual, dan intelektual. Dalam hal fisik, keragaman juga terjadi. Sehingga secara sosial, jika jujur diakui, lelaki putih lebih tertarik juga pada wanita berkulit putih, demikian sebaliknya. Walau ada pengecualian, tapi secara umum dikaui demikian. Demikian pula dalam masalah spiritual, akan menjadi “guncangan batin” bagi pasangan yang berbeda keyakinan, karena disadari atau tidak akan terjadi “gesekan-gesekan” dalam rumah tangga. Dari gesekan ini, yang paling visible untuk menjadi korban (victims) adalah anak-anak itu sendiri. Untuk itulah, jalan terakhir untuk menyelamatkan anak dari gesekan-gesekan ini adalah dengan memberikan kebebasan pilihan. Masalahnya, nurani Ulil akankah melihat cara ini sebagai sebuah “responsibilitas” keagamaan dari sang orang tua?

    Isu Keempat: Pemisahan Politik dari Agama (Secularism) Ulil mengulangi klaim lama bahwa agama hanyalah urusan pribadi, sedangkan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat lewat proses demokrasi. Selanjutnya dengan “arogan” dinyatakan bahwa “Hukum Tuhan” itu tidak ada, walau tentunya yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum Tuhan dalam masalah-masalah mu’amalah. Yang ada menurutnya, hanya prinsip-prinsip umum yang dikenal dalam kajian hukum Islam sebagai “maqashid as syari’ah”.

    Saya dalam hal ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan Ulil. Namun kelihatannya Ulil kebablasan dengan mengatakan secara lantang bahwa “hukum Tuhan” itu tidak ada. Dalam banyak ayat, Allah menegaskan: “Alaa innal hukma lillah”, “afahukmul jaahiliyah yabghuun?”, dst. Artinya, bahwa pada tataran filosfis, hukum Tuhan itu adalah acuan dalam segala perilaku hamba-hambaNya. Sehingga walaupun tataran praktek, manusia akan mencari formulasi yang tepat bagi urusan duniawi mereka (antum a’lamu bi umuri dunyakum), namun mereka akan selalu mengacu pada “kesucian” perilaku serta merasa diikat oleh nilai-nilai ketuhanan tersebut. Jika tidak, sejujurnya manusia tidak akan pernah bisa diatur. Manusia bisa menciptakan aturan, tapi manusia lebih pintar mencari dalih untuk melanggar aturan tersebut. Namun jika diikat oleh nilai-nilai ilahiyah, maka sebenarnya rasa “accountability” yang diwujudkan dalam bentuk “responsibility” akan lebih mudah terjadi.

    Untuk itu, ada aturan-aturan umum yang sebenarnya secara “nature” manusia menyetujuinya. Misalnya, dalam berdagang tidak “menipu”, tidak “monopoli”, tidak melakukan transaksi “riba” dll. Aturan-aturan umum inilah yang kemudian mengikat aturan-aturan praktis yang boleh jadi dilahirkan oleh manusia itu sendiri. Dalam upaya mendapatkan profit yang besar misalnya, tidak perlu melakukan “penipuan dan monopoli” atau melakukan transaksi-transaksi ribawi. Kiranya keterikatan dengan Allah tadi menjadi aturan yang mengilhami semua perilaku bisnis selanjutnya. Demikian seterusny.

    Dengan demikian, hukum atau aturan Allah tetap menjadi “acuan” (hudan/petunjuk) dalam proses-proses kehidupan antar manusia maupun dengan alam sekitarnya. Kenyataan ini adalah kenyataan yang tidak perlu diingkari, karena di AS sendiri nilai Ilahiyah dalam segala hal menjadi “source of guidance”. Sebagai negara sekuler, AS secara formal tidak memperkenankan beribadatan di tempat-tempat umum, apalagi pemerintahan. Tapi kenyataaanya, semua unsure pemerintahan mempunyai “chaplainship”, atau bimbingan kerohaniaan. Bagi saya, hanya sikap “malu-malu kucing” saja yang menjadikan orang mengatakan bahwa agama tidak diperlukan dalam dunia sosial, karena agama adalah masalah pribadi dengan Tuhan.

    Sangat riskan pernyataan Sdr. Ulil tentang tidak adanya hukum Allah dalam masalah-masalah mu’amalah ini. Makan dan minum adalah bagian mu’amalah. Hubungan antar manusia secara umum adalah bagian mu’amalah. Lalu masuk akalkah jika petunjuk Allah datang untuk mengatur manusia, tapi dalam melakukan hubungan di antara manusia itu sendiri Al Qur’an tidak memberikan perhatian? Bagaimana Ulil Akan mendudukkan hukum “makan daging babi”, minum khamar, penyelewengan seksual, dll?

    Sebagai ilustrasi, kalau seandainya isteri Ulil menyeleweng dengan seorang pria lain. Bagaimanakah Ulil menyikapi hal ini? Akankah Ulil memakai adat Makasar, dengan tusukan badik misalnya? Atau mengikut kepada “public opini” barat yang asal tidak mengganggu orang ketiga? Atau mungkin Ulil akan terlibat dalam faham “poliyarisme” atau faham “unlimited love”. Artinya, nggak apa-apa asal dilakukan suka sama suka saja. Bukankah ini sudah menjadi “public decency?” Sekali lagi, saya hanya ingin mengajak Ulil untuk kembali ke nuraninya. (bersambung…!)

    *) Pemerhati masalah keislaman yang tinggal di New York. Tulisan ini diambil dari milis Isnet

  3. Kompas, Rabu, 04 Desember 2002

    DALAM seminar di Riyadh (22 Maret 1972, yang diselenggarakan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS), hadir sejumlah cendekiawan dan ahli hukum Barat yang tertarik menyelidiki pelaksanaan syariat Islam hak asasi manusia dari tangan pertama.

    Pertemuan ilmiah pertama dilakukan di Riyadh, lalu di Vatikan, terakhir di Strassbourg. Seminar diikuti delegasi KAS, dan ahli-ahli hukum beberapa negara Eropa.

    Dalam seminar itu banyak pertanyaan dari delegasi Eropa, di antara undang-undang dasar, undang-undang perdata, pidana, dan sebagainya harus didasarkan pada Al Quran. Ini patut dipelajari dan dipikirkan kembali, karena kehidupan selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Menurut mereka, bukan untuk kepentingan Islam bila semua bentuk hukum diatur berdasar Al Quran, karena hal itu dapat merusak Al Quran sendiri, karena kehidupan berkembang dan kondisi telah berubah.

    Kedua, mereka menanyakan hukuman hudud (potong tangan dan rajam) yang tidak boleh diamandemen oleh akal manusia, sehebat apapun dia.

    Delegasi KAS menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menjelaskan dimensi-dimensinya sesuai pesan Al Quran, “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik!” (QS An-Nahl/16:125).

    Jawaban untuk masalah pertama, yaitu berpegang teguhnya kaum muslimin kepada Al Quran dalam membentuk segala hukum positif mereka dianggap akan merusak Al Quran sendiri. Ketika diselenggarakan Pekan Fiqh Islam di Paris tahun 1951, yang dihadiri para ahli ilmu hukum dari berbagai universitas di dunia, di antara peserta ada yang mengemukakan persoalan berikut.

    Agama tidak akan dapat mempertahankan kesuciannya bila agama itu tidak senantiasa seperti sebagaimana adanya menurut pendapat para pengikutnya, meski masa kedatangan agama telah lama. Agama seharusnya tidak berubah dan tidak berkembang, alias beku. Bila agama berubah dan berkembang, ia kehilangan tempatnya yang mulia dan kesuciannya. Karena itu, tiap kitab suci yang dimiliki agama manapun harus beku, tidak berubah. Kalau begitu, bagaimana mungkin membangun sistem hukum positif atas dasar kitab suci, karena hukum itu selalu berkembang sesuai perkembangan zaman?

    Harus diakui, saat itu hukum agama akan mendapat sifat kebekuan, karena segala sesuatu yang dibangun atas dasar kebekuan pasti beku pula. Inilah yang mengkhawatirkan Ulil Abshar Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) yang galau melihat meningkatnya semangat umat Islam menerapkan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan.

    Ulil menawarkan “pemahaman yang segar”, Islam harus dipandang sebagai “proses” yang tak pernah selesai. Tawarannya diturunkan dalam opini Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam (Kompas, 18/11). Alasannya, kenyataan di mana kehidupan dan kebutuhan selalu berubah dan berkembang. Karena itu, agama harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia. Sehingga QS Ali Imran/3:19 yang artinya “Sesungguhnya agama (yang diridoi) di sisi Allah hanya Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab (maksudnya Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran), kecuali setelah datang pengetahuan (wahyu ini) kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa kafir (menolak) ayat-ayat Allah, maka sebenarnya Allah amat cepat hisab-Nya” harus diartikan lain menurut versinya menjadi “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesaimenuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).” Konsekuensinya, wahyu tidak boleh dianggap tuntas. Ayat alyauma akmaltu& ” (QS Al Maidah/5:3), wahyu penutup Al Quran sebagai bukti kesempurnaan agama Islam terpaksa diabaikan.

    Secara keseluruhan saya memahami pemikirannya, juga komunitas JIL sesuai prinsip gagasan Islam liberal yang ditulis Greg Barton (1999) yaitu 1) pentingnya kontekstualisasi jihad; 2) Komitmen atas rasionalitas dan pembaruan; 3) Penerimaan terhadap pluralisme sosial dan pluralisme agama-agama; 4) Pemisahan agama dari partai politik dan adanya posisi non-sektarian negara.

    Para tokoh seniornya di Indonesia: Cak Nur, Gus Dur, Djohan Effendi, dan (alm) Ahmad Wahib. Dengan dana unlimited dari The Asia Foundation, ide-ide kelompok JIL mampu terus menghiasi media massa. Hampir seluruh media publik memberi akses tak terbatas kepada kelompok ini guna memasarkan ide-idenya. Sayang, gagasan-gagasan yang dijual, menurut saya, tidak lagi segar karena komoditasnya “barang lama yang dikemas ulang”.

    MUNCULNYA pertanyaan pertama lebih karena kesalahpahaman mereka atas pengertian agama. Setiap bertemu Ulil di forum diskusi (tiga kali) ia selalu mengatakan, agama adalah masalah pribadi (privat), bukan publik, sehingga negara tidak berhak “mengatur” agama seseorang. Realitasnya Pemerintah Indonesia telah memformalkan UU Zakat, Haji, Perbankan Syariah dan sebagainya. How do you mind? Dalam La Grande Encyclopaedia des Sciences, des Letters et des Arts misalnya, memuat kata-kata “agama”. Di situ disebutkan ada seratus definisi agama, sembilan puluh delapan darinya dianggap tidak ilmiah.

    Oleh karena itu, yang dipegang hanya dua definisi: 1) agama adalah cara manusia merealisir hubungannya dengan kekuatan gaib yang maha tinggi. 2) Agama mencakup segala sesuatu yang dikenal dan segala kekuasaan yang tidak sesuai ilmu pengetahuan.

    Islam jelas beda pendapat dengan pengertian pertama, karena mencakup segala sesuatu yang diketahui, yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang maha tinggi, juga hubungan manusia dengan manusia. Islam juga beda pendapat dengan definisi kedua, karena Al Quran berkata, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran/3:190). Maksudnya, agama dalam Al Quran adalah segala sesuatu yang sesuai dengan ilmu pengetahuan, otak, dan pemikiran.

    Orang-orang yang mengajar pengertian agama kepada orang Islam hanyalah mereka yang punya pengetahuan, menggunakan otak dan kaum pemikir. Karena itu, tidak aneh bila umat Islam merasa wajib menegakkan tiap hukum positif bersumber dari syariat Islam atas dasar Al Quran dan sunnah Rasul yang telah memberi pengertian tentang agama

    Beberapa ulama, seperti Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Di mana ada kemaslahatan dan kepentingan umum, di sanalah terdapatnya syariat.” Juga yang dikatakan Ibnu Uqail, lanjutan dari apa yang tersebut tadi, “walaupun dalam hal itu tidak ada wahyu dari Tuhan dan juga tidak pernah dikatakan oleh Nabi.”

    Demikianlah agama Islam yang syariatnya bersesuaian dengan ilmu pengetahuan, akal, dan pemikiran, tentu sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang selalu berubah. Agama Islam sanggup memberi jawaban, berdasar maslahat dan kepentingan umum, terhadap persoalan hukum, konstitusi, perdata, pidana, perkawinan, waris, dan sebagainya, meski dalam hal itu tidak ada teksnya (nash-nya).

    Sayang, Ulil tidak bisa membedakan mana hudud, mana tazir, sehingga ia ingin mengamandemen seluruh “hukum Allah” dengan mengatasnamakan kemaslahatan manusia. Padahal, Allah lebih tahu. Itu tidak berarti Allah butuh manusia, tetapi sebagai bukti Allah mencintai ciptaanNya. Sayang, kebanyakan manusia tak tahu diri akan kelamahan akal mereka.

    Fauzan Al-Anshari MM, Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin

  4. Selamatkan Masyarakat Kita dari Fatwa yang Berdasar Hawa Nafs

    Oleh: Ust. Hartono Ahmad Jaiz

    AlDakwah.org–Lontaran-lontaran nyeleneh (aneh) yang membahayakan bagi Islam yang biasa keluar dari mulut orang JIL (Jaringan Islam Liberal), Paramadina, dan oknum UIN (Universitas Islam Negeri/ dahulu IAIN) Jakarta, kini sudah lebih maju lagi. Bukan sekadar lontaran nyeleneh, namun praktek nyeleneh secara resmi pun diupacarakan. Di antaranya adalah upacara pernikahan Ahmad Nurcholish (27 th, Muslim) dengan Ang Mei Yong, (24 Tahun, Konghucu) di Yayasan Paramadina Jakarta, pimpinan Dr Nurcholish Madjid.

    Pernikahan Mei Menuai Kontroversi

    Gatra, JARUM jam menunjukkan pukul 09.30, ketika Ahmad Nurcholish, 27 tahun, yang memakai setelan jas warna hitam, menggandeng Ang Mei Yong, 24 tahun, yang bergaun pengantin warna putih. Mereka memasuki ruangan di Islamic Study Center Paramadina, di kompleks Pondok Indah Plaza, Jalan Tb. Simatupang, Jakarta Selatan.
    Sekitar 50 orang hadir dalam acara tersebut. Mereka adalah orangtua pasangan Nurcholish-Mei, kerabat, dan para undangan.

    Di antara mereka tampak Ulil Abshar-Abdalla, koordinator Jaringan Islam Liberal, dan Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin). (berita lengkap)

    Ulil, JIL, Kiprah dan “Fatwanya”

    Peristiwa itu berkait berkelindan dengan “fatwa-fatwa” Ulil Abshar Abdalla, kiprah JIL, Paramadina, dan oknum UIN dalam menyebarkan faham yang membahayakan Islam. Mari kita runtut sejenak, agar terbuka gambaran seberapa jauh kesibukan mereka dalam hal merusak Islam. Seolah mereka tidak ada capek-capeknya. Dengan adanya hasil di antaranya pernikahan silang antara muslim dengan musyrikat itu, tampaknya mereka lebih sibuk lagi. Namun sebelumnya mari kita runtut dari beberapa waktu belakangan ini.

    Ulil Abshar Abdalla kordinator Jaringan Islam Liberal (menurut orang-orang di FUUI Bandung: jaringan iblis laknatullah, lihat Harian Pikiran Rakyat Bandung, 20 Maret 2003) mempersoalkan, kenapa dirinya dikritik orang. Bahkan dia tidak terima, kenapa orang justru mengkritik dia (Ulil), tidak mengkritik saya (Hartono). Hingga Ulil mengatakan kepada sebuah majalah terbitan Jakarta, kenapa Hartono Ahmad Jaiz itu tidak dikritik, apakah karena sudah ketahuan jeleknya, sehingga tidak dikritik?

    Di lain kesempatan, Ulil juga menyebut-nyebut bahwa dia menulis di koran Kompas yang dia akui vulgar itu hanya mengimbangi orang-orang seperti Hartono, Adian Husaini dan lainnya, yang istilah balaghohnya musyakalah (mengimbangi). Sehingga sama sekali Ulil tidak menyesali tulisannya yang banyak dihujat orang itu, malahan diterus-teruskan, sampai mengemukakan di suatu majalah bahwa Vodca (minuman beralkohol lebih dari 16%, pen) boleh jadi di Rusia dihalalkan karena di sana udaranya dingin sekali.

    Terlepas dari hal-hal itu, ada sesuatu yang menjadikan tanda tanya. Sehari sebelum tulisan Ulil yang menghebohkan, berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, muncul di Harian Kompas Senin 18 November 2002, Ulil telah mengemukakannya di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta, dalam Dialog Ramadhan 1423H yang diselenggarakan para mahasiswa UGM yang tergabung dalam Jama’ah Salahuddin. Kata Ulil, besok (yaitu hari Senin 18/11 2002) akan keluar tulisannya di Kompas. Maka dia uraikan isi tulisannya itu. Saat itulah Ulil saya bantah ungkapan-ungkapannya langsung di depannya. Karena ia menganggap bahwa hukum Islam seperti jilbab, qishosh, hudud dan semacamnya yang sifatnya mu’amalah itu tidak usah diikuti. Al-hamdulillah, saya sempat menyebutnya bahwa teori yang ia kemukakan itu hanyalah teori Nicollo Machiavelli yang dikenal menghalalkan segala cara, dan teori Anthrophocentrism yang menjadikan manusia sebagai sentral pertimbangan. Dan ini pada hakekatnya adalah teori Ibliscentrism, yaitu sudah ada perintah Allah, namun perintah itu disanggah dengan menjadikan diri Iblis sebagai ukurannya.

    Saya katakan, orang Yahudi saja ketika mengadakan perjanjian dengan Nabi Muhammad saw maka mereka menyepakati, apabila ada perselisihan pendapat hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur’an dan As-Sunnah), yang hal itu dicantumkan dalam Piagama Madinah. Apakah Anda yang Muslim malah lebih dari Yahudi?

    Tampaknya pertanyaan saya itu oleh Ulil dicarikan jawabnya, lalu dikemukakan dalam diskusi di lembaga yang dipimpin Nurcholish Madjid yaitu Paramadina Jakarta, 8 Februari 2003. Di sana Ulil menganggap, rujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang difahami ummat Islam itu sebagai penyembahan terhadap teks.

    Ulil melontarkan istilah penyembahan terhadap teks itu merujuk kepada ungkapan orang kafir. Ini. agak berbeda dengan Pak Munawir Sjadzali ketika jadi menteri agama RI 1983-1993 merujuk kasus yang sama kepada seorang tokoh di Pakistan. Baik yang merujuk langsung kepada tokoh kafir maupun tokoh sekuler semuanya sama, yakni mengkotak-katik Al-Qur’an dan As-Sunnah agar tidak diberlakukan lagi.

    Banyak ulama, tokoh Islam, dan kaum Muslimin yang tersentak bahkan tersinggung dan marah-berat ketika membaca tulisan Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) di Harian Kompas 18 November 2002 / Ramadhan 1423H yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam itu.

    Artikel itu menghantam Islam dan ummat Islam secara semaunya. Arahnya adalah pluralisme agama, menyamakan Islam agama Tauhid dengan agama-agama lain yang berseberangan bahkan bertentangan dengan Tauhid, yaitu syirik, menyekutukan Allah swt dengan selain-Nya. Resiko dari keberanian menyejajarkan agama Tauhid dengan kemusyrikan itu sampai-sampai Ulil Abshar Abdalla “memfatwakan” tidak berlakunya lagi larangan pernikahan antara Muslim/ Muslimah dengan non Muslim. Dia karang-karang bahwa larangan atau keharamannya dalam Al-Qur’an tidak jelas. Lebih dari itu, seluruh hukum dalam Al-Qur’an yang menyangkut mu’amalah (pergaulan antar manusia) tidak perlu diikuti lagi di zaman modern ini. Sehingga Ulil Abshar Abdalla menegas-negaskan hawa nafsunya berkali-kali bahwa dia tidak percaya adanya hukum Tuhan.

    Lelaki Muslim Menikahi Wanita Konghuchu di Paramadina

    “Fatwa” Ulil di Kompas yang mengacak-acak hukum Allah itu dia demonstrasikan pula secara nyata-nyata. Yaitu Ulil Abshar Abdalla menjadi salah satu pengundang dalam acara pernikahan lelaki Muslim dengan wanita Konghucu di Yayasan Paramadina (Islamic Study Center Paramadina Pondok Indah Plaza III Blok F 5-7 Jl TB Simatupang) Jakarta yang berlangsung Ahad 8 Juni 2003.

    Pagi Itu akad nikah cara Islam. Pengantin lelakinya bernama Ahmad Nurcholish, perempuannya Ang Mei Yong. Walinya diserahkan kepada Dr Kausar Azhari Noer dosen tasawuf di UIN (Universitas Negeri Jakarta) dan beberapa perguruan tinggi, dan pengajar di Paramadina.

    Sedang di antara saksinya adalah Ulil Abshar Abdalla. Sorenya, akad nikah cara Islam itu entah belum dianggap cukup atau bagaimana, kemudian diadakan upacara Liep Gwan (model Konghucu), di Sekretariat MATAKIN Komplek Royal Sunter Blok F 23 Jl Danau Sunter Selatan Jakarta Utara. Surat undangan yang diedarkan tertera nama-nama yang turut mengundang yaitu: Dr H Zainun Kamal MA (dosen UIN Jakarta), Ulil Abshar Abdalla -JIL, dan Munawar MA Sag. Dicantumkan pula dalam undangan bahwa Dr Zainun Kamal yang akan menyampaikan khutbah nikah.

    Rupanya Ulil mengambil kesempatan secara maksimum (kemaruk?), dimulai dengan berperan sebagai orang yang turut mengundang dalam pernikahan beda agama seperti yang dia “fatwakan”. Lalu tidak cukup hanya jadi pengundang, namun dia juga jadi saksi dalam upacara akad nikah. Lalu masih merasa belum cukup pula, maka mewawancarai Ahmad Nurcholish dan Mei Yong kemudian dimuat di situs islamlib.com.

    Masih belum cukup pula, maka mewawancarai Drs. Nuryamin Aini, MA, pengajar Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah dan peneliti Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) UIN Jakarta yang intinya menyudutkan para ulama yang mengharamkan pernikahan Muslim dengan non Muslim. Penyudutan terhadap ulama itu hanya dengan dalih hasil penelitiannya tentang anak-anak hasil pernikahan beda agama, katanya lebih banyak yang ikut ke Islam. Dengan modal “fakta” seperti itu, dosen UIN Jakarta itu berani-beraninya menyalahkan ulama, bahkan pada hakekatnya menyalahkan Al-Qur’an, firman Allah. Terlalu canggih memang, Ulil dalam membawakan urusan beginian.

    Barangkali saja Ulil masih penasaran juga kalau dirinya belum menikahi perempuan musyrik kafir atau anaknya dinikahi oleh lelaki musyrik kafir. Karena walaupun “fatwanya” itu manjur, namun tentunya bukan saja untuk orang lain. Sebagaimana dia tentu hafal (walau sudah tidak ingat lagi riwayat siapa, mungkin) ungkapan Ibda’ binafsik, mulailah dengan dirimu sendiri (Hadits riwayat An-Nasa’I). Ini ternyata yang memulai menikahi wanita kafir musyrik adalah Ahmad Nurcholish yang tahun lalu (2002) selaku pengurus YISC Al-Azhar Jakarta mengundang Ulil Abshar Abdalla untuk duduk bersama (berbantah) dengan saya (Hartono) dan juga Haidar Bagir. Coba saja Ulil waktu itu (Mei 2002) langsung “berfatwa” tentang nikah, tidak usah ditunda sampai November 2002, atau langsung Ulil contohi, maka kemanjurannya mungkin lebih cepat lagi. Dan tidak usah capek-capek sampai mengejar-ngejar dosen UIN untuk diwawancarai. Jadi lebih efisien.

    Dan lebih efisien lagi kalau Ulil menikahi sekaligus empat wanita dari empat jenis yaitu musyrik, kafir, murtad, dan zindiq (tidak mempercayai Allah, tak percaya hukum/ aturan Allah, namun tempo-tempo menampakkan dirinya sebagai orang beriman). Atau kalau khawatir disindir rekannya karena poligami, Ulil bisa juga menjadwalkan satu persatu. Misalnya yang musyrik dulu, nanti ganti yang kafir, ganti lagi yang murtad, dan terakhir yang zindiq. Terserahlah. Untuk efisien-efisienan, saya tidak perlu mengajari. Semuanya tentu sudah terprogram rapi. Dan juga stocknya kan banyak. Kalau hanya mencari yang empat jenis itu tidak sulit-sulit amat. Baik yang lama maupun yang baru. Misalnya yang murtadnya baru, itu justru masih mudah diwawancarai guna mengukur seberapa keberhasilan selama ini.

    Antek Yahudi dan Nasrani Memreteli Islam

    Pertentangan dan pergulatan antara perusak Islam dengan yang mempertahankannya, baik secara prosedural maupun perasaan tampaknya tetap berlangsung. Hanya saja, perusakan terhadap Islam senantiasa dilancarkan, karena Ulil dan para pendukungnya yaitu para pengusung perusakan Islam tetap bekerja siang malam karena sudah ada rasa kelegaan, merasa terlindungi, dan punya sarana yang banyak macamnya, serta banyak dana. Islam dijadikan sasaran untuk dipreteli satu persatu agar habis. Kalau orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sehingga Muslimin mengikuti agama mereka (lihat QS Al-Baqarah: 120) maka antek-antek Yahudi dan Nasrani yang mengaku Muslim tidak rela apabila Islam masih utuh seperti apa adanya. Mereka berupaya keras demi mengikuti kemauan bossnya, maka dipreteli dan dikelupas lah Islam ini, sehingga lepas satu-persatu, tidak tersisa lagi. Hingga Islam tinggal namanya, Al-Qur’an tinggal gambar hurufnya.

    Dalam hadits disebutkan:

    “Pastilah tali-tali Islam akan dilepaskan satu demi satu tali, maka ketika terlepas satu tali lalu manusia berpegangan dengan yang berikutnya. Yang pertama lepas adalah al-hukmu (hukum, pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR Ahmad, hasan).

    “Hampir datang pada manusia suatu zaman (di mana) tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai tetapi keropos dari petunjuk. Ulama mereka adalah seburuk-buruk orang di bawah kolong langit… (HR Al-baihaqi dalam Syu’abul Iman juz 2, halaman 311).

    Perusakan terhadap Islam adalah satu kemunkaran yang sangat puncak. Tanpa ada perusakan pun, orang-orang yang mampu untuk menyiarkan dan mendakwahkan Islam maka wajib mendakwahkannya. Sehingga, lepasnya unsur-unsur Islam seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, tanpa dilancarkan oleh orang-orang tertentu dengan program yang disusun rapi pun, ummat Islam ini sebenarnya wajib mempertahankan Islamnya. Apalagi dalam kasus ini perusakan dan pemretelan terhadap Islam itu justru diprogramkan, didanai, dan dilaksanakan secara sitematis; maka kewajiban untuk mempertahankan Islam di sini lebih mutlak wajibnya. Meskipun demikian, untuk melaksanakan kewajiban mempertahankan Islam dalam kasus ini pun memerlukan perangkat. Di antara perangkat yang paling utama adalah pemahaman Islam secara memadai dan benar. Karena, tanpa memiliki kemampuan memahami Islam secara memadai dan benar, maka menghadapi syubhat-syubhat (kesamaran-kesamaran) dan kata-kata sampah yang disasarkan untuk mempreteli Islam itu bisa jadi justru menambah kerancuan pemahaman. Akibatnya, pemahaman justru akan rusak, carut marut dan makin jauh dari Islam, alias ikut pula mempreteli Islam tanpa disadari. Padahal kalau gerakan sistematis perusakan pemahaman Islam ini dibiarkan, yang terjadi adalah proses pembusukan pemahaman Islam secara sitematis yang menuju kepada rusaknya seluruh sisi pemahaman Islam.

    Ulil Abshar Abdalla telah kelewat batas. Lontaran-lontaran Ulil yang merupakan olahan dari sampah-sampah berbahaya yang ia kais-kais dari tokoh-tokoh sekuler, Islam kiri, orientalis, kafirin, tasawuf sesat, liberal, dan mereka yang berfaham pluralisme agama alias mensejajarkan semua agama, jelas merusak pemahaman Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan penjelasan para ulama yang bermanhaj salaful ummah.

    Inti ajaran Ulil, menyejajarkan bualan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah

    Inti dari lontaran sampah yang dibualkan Ulil adalah agar dalam mengatur kehidupan modern ini Al-Qur’an tidak dijadikan pedoman, apalagi As-Sunnah. Justru yang dijadikan pedoman adalah apa yang ia sebut pengalaman manusia, dengan alasan bahwa Tuhan telah memuliakan (takrim) kepada manusia. Kalau untuk mengatur kehidupan modern ini masih merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang tertulis dalam teks, maka Ulil menganggapnya sebagai penyembahan terhadap teks. Ulil menginginkan agar apa yang ia sebut penyembahan teks itu dicari jalan keluarnya, di antaranya adalah menjadikan pengalaman manusia ini kedudukannya sejajar dengan Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an yang berupa teks itu hanyalah separoh dari Al-Qur’an, dan yang separohnya lagi adalah pengalaman manusia. Itulah yang dimaui Ulil.

    Kalau kemauan Ulil itu diikuti, maka dia sendiri tertabrak oleh bikinan dia sendiri, yaitu dia sama dengan menginginkan agar jangan hanya menyembah teks tetapi sembah juga pengalaman manusia. Ujung-ujungnya, dia sendiri menyembah pikirannya sendiri, yaitu pikirannya yang menginginkan adanya penyembahan model yang ia lontarkan.

    Ulil berguru kepada Romo Katolik di antaranya Frans Magnis Suseno SJ di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Akibatnya menjadi orang nyeleneh. Lontaran Ulil berputar pada kisaran duga-duga yang jauh dari kebenaran, dan ketika dikemukakan ke masyarakat umum menjadi wabah penyakit aqidah. Sebenarnya semua itu menurut istilah Al-Qur’an hanyalah mengikuti orang-orang kafir terdahulu. Guru yang mengajari Ulil itu keyakinannya telah disinyalir oleh Al-Qur’an sebagai orang-orang yang hanya menirukan orang-orang kafir terdahulu. Lantas Ulil yang mengolah pemahaman di antaranya dari gurunya itu, terjebak dalam kisaran yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai orang yang menuhankan hawa nafsunya. Itulah kunci rahasianya.

    Aqidah orang yang mengikuti kafirin terdahulu disebut dalam Al-Qur’an, yang artinya:

    Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS At-Taubah: 30).

    Setelah berguru kepada orang yang keyakinannya menirukan kafirin terdahulu, jadilah orang yang menciptakan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Kalau sudah demikian, maka peringatan Allah swt perlu dijadikan pertimbangan benar-benar, ytang artinya:

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS Al-Jatsiyah: 23).

    Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Qashash: 50).

    Allah SWT telah memberikan peringatan setegas itu. Kenyataan telah membuktikan, orang yang berguru kepada tokoh yang keyakinannya menirukan orang-orang kafir terdahulu, maka ketika si murid itu pada gilirannya mengajarkan ajarannya itu kepada umum didukunglah oleh kelompok-kelompok kafirin dari Barat dan Timur serta wadya balanya dan antek-anteknya.

    Itulah Ulil yang telah berguru kepada intelektual kafir. Demikian pula tokoh-tokoh lain yang berguru kepada kafirin di Barat dalam apa yang disebut “belajar Islam” ke Barat, yang kini mereka mengajar di UIN, IAIN-IAIN, Perguruan Tinggi Islam Swasta se-Indonesia, dan di lembaga-lembaga Islam.

    Mereka adalah penerus Snouck Hurgronje, Van der Plas, atau bahkan Gatoloco dan Darmo Gandul. (Tentu saja ada juga yang shalih, tidak dinafikan). Jadi dari Barat diambil faham pluralisme agamanya (menyamakan semua agama), sedang dari tasawuf sesat diambil wihdatul adyan (menyamakan semua agama)nya, dan dari Gatoloco- Darmogandul diambil kebengalannya dalam meledek Islam. Jadilah sosok-sosok perusak Islam yang sangat berbahaya, sambil bekerja sama-sama dengan pihak yang gencar mengadakan pemurtadan. Astaghfirullaahal ‘adhiem… Na’udzubillaahi min dzaalik!
    Media Dakwah Agustus 2004/ Jumadil Akhir 1424H ::BACK TO HOME::

  5. Mengenal aliran sesat Jaringan Islam Liberal

    “Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya.
    imageMereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.”

    KUTIPAN bernada provokatif di atas terpampang sebagai moto sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: Bahaya Islam Liberal. Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”.

    Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadis Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadis hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah.

    Buku itu terbit Januari 2002, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang komunitas anak muda yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal (JIL). Penempatan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib tersebut sebagai moto buku mengundang pertanyaan: apakah Islam liberal yang dikupas buku itu, dengan demikian, sudah masuk kriteria kelompok yang dimaksud isi hadis, sehingga wajib dibunuh?

    Sang penulis tak menjawab ya atau tidak. “Itu harus diputuskan lewat mekanisme hukum,” ujar Hartono. Hadis tersebut, kata alumnus IAIN Yogyakarta ini, bersifat umum. Karena itu, Hartono menyadari, penerapannya bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Maka perlu pelibatan aparat hukum untuk meredam sengketa. Sesuai dengan kaidah fikih: hukm al-hakim yarfa’u al-khilaf (putusan pihak berwenang berfungsi menyudahi polemik).

    Pada akhir buku, Hartono menyerukan pengadilan atas Islam Liberal yang ia nilai “jauh dari kebenaran”. Namun, secara tersirat, ia tetap menyarankan sanksi bunuh, ketika menutup buku dengan menampilkan kisah Umar bin Khattab yang membunuh orang yang menolak berhukum dengan syariat Islam. Di antara dosa JIL, di mata Hartono, juga menolak syariat Islam.

    Ibn Hajar al-Asqalani, dalam bukunya, Fathul Bari –sebuah elaborasi (syarah) atas Shahih Bukhari– menjelaskan, hadis tersebut diwartakan Ali ketika hendak menumpas pembangkangan kaum Khawarij (Haruriyah). Yakni kelompok yang sangat literal memahami Al-Quran dan menilai Ali telah kafir.

    Khawarij dikenal mudah mengafirkan sesama muslim, dan tak segan membunuh muslim yang mereka vonis kafir. Komunitas jenis inilah yang dimaksud hadis tersebut saat itu. Pada awal 2002, Hartono memakai hadis itu untuk buku tentang komunitas liberal, bukan kelompok literal sejenis Khawarij.

    Dengan demikian, berita gempar fatwa mati yang pernah menimpa JIL pada akhir 2002 telah mendapat pengantar “akademik” dari buku Hartono, 11 bulan sebelumnya. Bila di awal 2002 Hartono mewacanakan eksekusi bunuh terhadap Islam liberal, menjelang akhir tahun, lontaran itu mengkristal dalam bentuk “fatwa mati”.

    Sejumlah agamawan yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), pada 30 November 2002, berkumpul di Masjid Al-Fajar, Bandung, dan mengeluarkan pernyataan berisi fatwa itu. Pernyataan FUUI berbunyi, “Menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam, dan para ulama.”

    Mereka terpicu tulisan provokatif Ulil Abshar Abdalla, Koordinator JIL, di Kompas, 18 November 2002, berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” , yang dirujuk sebagai contoh penghinaan agama. FUUI menyatakan, “Menurut syariat Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan kebenaran agama dapat diancam dengan hukuman mati.”

    Menurut Ketua FUUI, KH Athian Ali, fatwanya tak hanya untuk Ulil. “Terlalu kecil jika kami hanya menyorot Ulil. Kami ingin membongkar motif di balik Jaringan Islam Liberal yang dia pimpin,” kata Athian. Sepanjang 2002, karena itu, menjadi tahun seruan kematian atas JIL.

    Fatwa itu menyulut kontroversi luas. Sikap FUUI menuai banyak kecaman. Inti kecaman itu: berbeda pendapat boleh, tapi jangan menebar maut. Cukuplah sejarah memberi pelajaran pahit: dari Al-Hallaj (Baghdad), Siti Jenar (Demak), Hamzah Fansuri (Aceh), Farag Faudah (Mesir), sampai Mahmoud Taha (Sudan) yang kehilangan nyawa karena pikiran berbeda.

    Akhirnya FUUI mengklarifikasi: mereka tak mengeluarkan “fatwa mati”. “Kami hanya menuntut proses hukum,” kata Athian. Ia membuktikan ucapannya dengan mengadukan Ulil ke Mabes Polri, sepekan kemudian. FUUI memang tak menyebut kata “fatwa mati”, tapi Athian menyatakan, dasar hukum sikapnya terhadap JIL sama dengan sikap kepada Pendeta Suradi. Pada Februari 2001, FUUI terang-terangan memakai kata “fatwa mati” untuk Suradi.

    Komunitas macam apa sebenarnya JIL ini? Mengapa sampai ada kelompok lain yang menyerukan kematiannya? Setarakah “bahaya Islam Liberal” dengan jargon “bahaya narkoba” atau “bahaya laten komunis” yang pelakunya juga kerap diganjar hukuman mati? GATRA pernah dua kali menggali tuntas komunitas ini: Laporan Khusus Islam “Liberal Hadang Fundamentalisme” (8 Desember 2001) dan Laporan Utama “Fatwa Mati Islam Liberal” (21 Desember 2002). Anggapan dan ancaman terhadap JIL itu agaknya berlebihan.

    Kemunculan JIL berawal dari kongko-kongko antara Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Tempat ini kemudian menjadi markas JIL. Para pemikir muda lain, seperti Lutfi Asyyaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung. Dalam perkembangannya, Ulil disepakati sebagai koordinator.

    Gelora JIL banyak diprakarsai anak muda, usia 20-35-an tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis. Tujuan utamanya: menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik,” tulis situs islamlib.com. Lebih jauh tentang gagasan JIL lihat: Manifesto Jaringan Islam Liberal.

    JIL mendaftar 28 kontributor domestik dan luar negeri sebagai “juru kampanye” Islam liberal. Mulai Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Said Agiel Siradj, Azyumardi Azra, Masdar F. Mas’udi, sampai Komaruddin Hidayat. Di antara kontributor mancanegaranya: Asghar Ali Engineer (India), Abdullahi Ahmed an-Na’im (Sudan), Mohammed Arkoun (Prancis), dan Abdallah Laroui (Maroko).

    Jaringan ini menyediakan pentas –berupa koran, radio, buku, booklet, dan website– bagi kontributor untuk mengungkapkan pandangannya pada publik. Kegiatan pertamanya: diskusi maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran segrup. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal.

    Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan gender, jilbab, atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi.

    Dalam situs islamlib.com dinyatakan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia. Seperti munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi “Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil kekerasan.

    JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya, juga lugas mengungkapkan ide-ide “gila”-nya. Gaya kampanyenya menggebrak, menyalak-nyalak, dan provokatif. Akumulasi gaya ini memuncak pada artikel kontroversial Ulil di Kompas yang dituding FUUI telah menghina lima pihak sekaligus: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.

    Dengan gaya demikian, reaksi bermunculan. Tahun 2002 bisa dicatat sebagai tahun paling polemis dalam perjalanan JIL. Spektrumnya beragam: mulai reaksi ancaman mati, somasi, teguran, sampai kritik berbentuk buku. Teguran, misalnya, datang dari rekomendasi (taushiyah) Konferensi Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, 11-13 Oktober 2002.

    Bunyinya: “Kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU mewaspadai dan mencegah pemikiran Islam Liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam Liberal dimunculkan oleh Pengurus NU (di semua tingkatan) diharap ada sanksi, baik berupa teguran keras maupun sanksi organisasi (sekalipun dianulir dari kepengurusan).”

    Somasi dilancarkan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al-Anshari, kepada RCTI dan SCTV, pada 4 Agustus 2002, karena menayangkan iklan “Islam Warna-warni” dari JIL. Iklan itu pun dibatalkan. Kubu Utan Kayu membalas dengan mengadukan Fauzan ke polisi.

    Sementara kritik metodologi datang, salah satunya, dari Haidar Bagir, Direktur Mizan, Bandung. Ia menulis kolom di Republika, 20 Maret 2002: “Islam Liberal Butuh Metodologi”. JIL dikatakan tak punya metodologi. Istilah ”liberal”, Haidar menulis, cenderung menjadi ”keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa masuk”. Tanpa metodologi yang jelas akan menguatkan kesan, Islam liberal adalah ”konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri”.

    Reaksi berbentuk buku, selain karya Hartono tadi, ada pula buku Adian Husaini, Islam Liberal: Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta, Juni 2002). Ada tiga agenda JIL yang disorot: pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah; isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global; upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel.

    Buku lain, karya Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Jakarta, Agustus 2003). Isinya, kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam liberal. Energi personel JIL akhirnya memang tersedot untuk meladeni berbagai reaksi sepanjang 2002 itu. Mulai berbentuk adu pernyataan, debat ilmiah, sampai balasan mengadukan Fauzan ke polisi. Tapi, semuanya justru melejitkan popularitas kelompok baru ini.

    Menjelang akhir 2003 ini, hiruk-pikuk kontroversi JIL cenderung mereda. Nasib aduan FUUI dan aduan JIL terhadap Fauzan ke Mabes Polri menguap begitu saja. Dalam suasana lebih tenang, JIL mulai menempuh fase baru yang lebih konstruktif, tak lagi meledak-ledak.

    “Tahap awal yang menggebrak, kami kira sudah cukup. Kini kami konsentrasi mengembangkan jaringan antarkampus,” kata Nong Darol Mahmada, Wakil Koordinator JIL. Misinya, membendung laju skripturalisme Islam sejenis Hizbut Tahrir yang merasuki kampus-kampus umum. Ada 10 kampus di Jawa yang dimasuki jaringan. Agustus lalu, JIL mengelar SWOT untuk mengevaluasi kinerja dan merumuskan agenda ke depan.

    Ramadan ini, JIL mengisi waktu dengan mengkaji kitab-kitab ushul fiqh klasik ala pesantren. Seperti Ar-Risalah karya Imam Syafi’i, Al-Muwafaqat karya Al-Syatibi, tulisan lepas Najmuddin Al-Thufi dan Jam’ul Jawami’ karya Al-Subkhi. Acara bertajuk “Gelar Tadarus Ramadan: Kembali ke Islam Klasik” ini berlangsung di Gedung Teater Utan Kayu. Usai diskusi, acara dilanjutkan dengan tarawih bersama.

    Di atas segalanya, aksi-reaksi yang mengiringi perjalanan JIL telah menguakkan kenyataan bahwa JIL mempunyai “konstituen” tersendiri yang justru mendapat pencerahan spiritual dari Islam ala JIL ini.

    Misalnya, saat berlangsung talk show radio bersama Prof. Hasanuddin A.F. tentang pidana mati dalam Islam, Desember 2002. Seorang penanya bernama Henri Tan mengeluh akan keluar lagi dari Islam, bila Ulil diancam-ancam fatwa mati. “Islam model Ulil ini yang membuat saya tertarik masuk Islam. Kalau model ini mau dimatikan, lebih baik saya keluar lagi dari Islam,” katanya.

    Fakta serupa muncul dalam bedah buku Syariat Islam Pandangan Muslim Liberal di Universitas Negeri Jakarta, Juni 2003. Seorang peserta, sebut saja Djohan, menyesalkan fatwa mati atas Ulil. “Saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam justru karena keislaman model Mas Ulil. Dia bukan pendangkal akidah, malah menguatkan akidah saya,” kata Djohan. Tuduhan bahwa JIL mendangkalkan akidah, dengan fakta ini, perlu diuji kembali.

    Ketika digelar jumpa pers JIL menanggapi fatwa FUUI, di Utan Kayu, Jakarta, Desember 2002, ada seorang penanggap yang mengaku berislam secara “minimal”, alias abangan. Tadinya ia merasa terasingkan dari wadah mayoritas umat Islam, tapi kehadiran JIL seolah merangkulnya, dan mengakuinya sebagai muslim. Ia pun terdorong meningkatkan kualitas keislamannya.

    Lepas dari beragam kontroversinya, bagaimanapun, ada segmen masyarakat tertentu yang membutuhkan Islam model JIL dalam merawat spiritualitas mereka. Tentu mereka bukan hanya kalangan mualaf dan abangan, juga para akademisi, peneliti, aktivis, dan mahasiswa yang berpikir kritis, pluralis, dan menjunjung kebebasan. Maka, biarkan JIL melayani konstituennya. (GTR)
    Akar Islam Liberal

    “Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur. Tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu ‘Islam liberal’.” ( Asaf ‘Ali Asghar Fyzee [India, 1899-1981] ).

    PERKENALAN istilah “Islam liberal” di Tanah Air terbantu oleh peredaran buku Islamic Liberalism (Chicago, 1988) karya Leonard Binder dan Liberal Islam: A Source Book (Oxford, 1998) hasil editan Charles Kurzman. Terjemahan buku Kurzman diterbitkan Paramadina Jakarta, Juni 2001. Versi Indonesia buku Binder dicetak Pustaka Pelajar Yogyakarta, November 2001.

    Sebelum itu, Paramadina menerjemahkan disertasi Greg Barton di Universitas Monash, berjudul Gagasan Islam Liberal di Indonesia, April 1999. Namun, dari ketiga buku ini, tampaknya buku Kurzman yang paling serius melacak akar, membuat peta, dan menyusun alat ukur Islam liberal. Para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) juga lebih sering merujuk karya Kurzman ketimbang yang lain.

    Kurzman sendiri meminjam istilah itu dari Asaf ‘Ali Asghar Fyzee, intelektual muslim India. Fyzee orang pertama yang menggunakan istilah “Islam liberal” dan “Islam Protestan” untuk merujuk kecenderungan tertentu dalam Islam. Yakni Islam yang nonortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi masa depan, bukan masa silam.

    “Liberal” dalam istilah itu, menurut Luthfi Assyaukanie, ideolog JIL, harus dibedakan dengan liberalisme Barat. Istilah tersebut hanya nomenklatur (tata kata) untuk memudahkan merujuk kecenderungan pemikiran Islam modern yang kritis, progresif, dan dinamis. Dalam pengertian ini, “Islam liberal” bukan hal baru. “Fondasinya telah ada sejak awal abad ke-19, ketika gerakan kebangkitan dan pembaruan Islam dimulai,” tulis Luthfi.

    Periode liberasi itu oleh Albert Hourani (1983) disebut dengan “liberal age” (1798-1939). “Liberal” di sana bermakna ganda. Satu sisi berarti liberasi (pembebasan) kaum muslim dari kolonialisme yang saat itu menguasai hampir seluruh dunia Islam. Sisi lain berarti liberasi kaum muslim dari cara berpikir dan berperilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan.

    Luthfi menunjuk Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai figur penting gerakan libaral pada awal abad ke-19. Hassan Hanafi, pemikir Mesir kontemporer, menyetarakan Abduh dengan Hegel dalam tradisi filsafat Barat. Seperti Hegel, Abduh melahirkan murid-murid yang terbagi dalam dua sayap besar: kanan (konservatif) dan kiri (liberal).

    Ada dua kelompok yang dikategorikan “musuh” utama Islam liberal. Pertama, konservatisme yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya.

    Bila Luthfi mengembalikan semangat liberal pada abad ke-19, aktivis JIL yang lain, Ahmad Sahal, menariknya pada periode sahabat. Rujukannya Umar bin Khattab. Dialah figur yang kerap melakukan terobosan ijtihad. Umar beberapa kali meninggalkan makna tekstual Al-Quran demi kemaslahatan substansial. Munawir Sjadzali juga kerap merujukkan pikirannya kepada Umar ketika memperjuangkan kesetaraan hak waris anak laki-laki dan perempuan.

    Umar menjadi inspirator berkembangnya mazhab rasional dalam bidang fikih yang dkenal sebagai madrasatu ra’yi. Dengan demikian, Sahal menyimpulkan, Islam liberal memiliki genealogi yang kukuh dalam Islam. Akhirnya, Islam liberal adalah juga anak kandung yang sah dari Islam.
    Manifesto Jaringan Islam Liberal

    NAMA “Islam liberal” menggambarkan prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Kami percaya, Islam selalu dilekati kata sifat, sebab kenyataannya Islam ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir –dengan demikian juga memilih satu kata sifat– yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam liberal, kami membentuk “Jaringan Islam Liberal”. Landasan penafsiran kami adalah:

    1. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.
    Kami percaya, ijtihad (penalaran rasional atas teks-teks keislaman) adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan. Kami percaya ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), maupun ilahiyyat (teologi).

    2. Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks.
    Ijtihad yang kami kembangkan berdasarkan semangat religio-etik Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal.

    3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.
    Kami mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung konteks tertentu; terbuka, sebab setiap penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran adalah cermin kebutuhan penafsir pada masa dan ruang yang terus berubah.

    4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.
    Kami berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas minoritas berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas dipahami dalam makna luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, dan ekonomi.

    5. Meyakini kebebasan beragama.
    Kami yakin, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Kami tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar pendapat atau kepercayaan.

    6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.
    Kami yakin, kekuasaan agama dan politik harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus. (GTR)
    [sumber: hasil SWOT JIL di Ancol, Jakarta, Agustus 2003/swaramuslim

  6. Membongkar Kedok JIL – Pengadilan Terbuka Atas Mereka
    Senin, 19 September 2005 – 11:04:37 :: kategori Firqoh-Firqoh
    Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari
    .: :.
    Ali radhiallahu ‘anhu berkata:
    لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
    “Seandainya yang menjadi tolak ukur di dalam agama ini adalah akal pikiran niscaya bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya no. 162. Guru kami, Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Jami’us Shahih Mimma Laisa fish Shahihaini (1/61) Bab Ma Ja’a Fi Dzammi Ra’yi (Bab Tercelanya Mengutamakan Akal Pikiran): “Hadits ini shahih.” Para perawinya adalah perawi kitab Shahih kecuali Abdu Khair, namun dia ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in sebagaimana dinukilkan di dalam kitab Tahdzibut Tahdzib).
    Ucapan shahabat yang mulia di atas mengisyaratkan kepada kita tentang kedudukan akal di dalam agama, dan bahwa agama ini tidaklah diukur dengan akal pikiran namun kembalinya kepada nash, yaitu apa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan apa kata Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Namun kita dapati ada sebagian manusia yang sangat mengagungkan akal sehingga mereka memposisikan akal tersebut di atas Al Qur’an dan As-Sunnah. Bila sesuai dengan akal, mereka terima, dan bila bertentangan dengan akal –menurut mereka– mereka tolak atau simpangkan maknanya.

    Islam Memuliakan Akal
    Allah menganugerahkan kepada manusia nikmat berupa akal pikiran yang dengannya manusia terangkat kepada tingkatan taklif ilahiyyah (memikul beban syariat sebagai hamba yang mukallaf). Dengan akal itu pula manusia mengetahui taklif tersebut dan dapat memahaminya. [1] Allah bekali pula manusia dengan fithrah yang bersesuaian dengan wahyu yang mulia dan agama yang haq, yang dibawa oleh para rasul Allah alaihimush shalatu wassalam, yang Allah syariatkan dan Allah jadikan sebagai jalan hidup bagi manusia tersebut, yang mana wahyu dan agama yang haq ini tersampaikan lewat lisan para rasul yang mulia shalawatullahi wa salamuhu alaihim ajma‘in. (Manhajul Anbiya fid Da’wah ilallahi fihil Hikmah wal ‘Aql, Asy-Syaikh Rabi‘, hal. 33)

    Dengan demikian, Islam tidaklah menelantarkan akal, dan tidak pula mengangkatnya lebih dari porsinya namun akal ditempatkan pada tempatnya dan digunakan dengan semestinya.
    Al Qur’an yang mulia telah banyak memberikan dorongan kepada kita untuk mempergunakan akal pikiran. Kita diperintahkan untuk memikirkan Al Qur’an hingga sampai pada keyakinan tentang kebenarannya, sebagaimana kita diperintah untuk memikirkan ciptaan Allah untuk menambah keyakinan kita kepada-Nya.

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an (memikirkan dan merenungkannya)? Kalau sekiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa: 82)
    “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka ? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan…” (Ar-Rum: 8)

    Allah membuat banyak permisalan dalam Al Qur’an agar kita memikirkannya, seperti ketika Dia menceritakan tentang permisalan kehidupan dunia:
    “Permisalan kehidupan dunia itu hanyalah seperti air yang Kami turunkan dari langit lalu bercampurlah dengannya tumbuh-tumbuhan bumi dari apa yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi itu telah memakai perhiasannya dan indah (subur menghijau dengan berbagai jenis tanamannya) sementara pemiliknya yakin mereka akan mampu memetik dan menikmati hasilnya (dari tanam-tanaman tersebut), datanglah perintah Kami pada waktu malam dan siang (sehingga rusak dan hancurlah tanaman yang sudah diharapkan tadi). Lalu Kami jadikan tanaman itu seperti sudah dituai seakan-akan ia tidak pernah ada di hari kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat Kami bagi orang-orang yang mau berpikir.” (Yunus: 24)

    Islam Membimbing Akal
    Akal memiliki kemampuan yang terbatas sehingga ia tidak dapat mencapai seluruh hakikat yang ada. Bila akal dilepaskan begitu saja tanpa bimbingan niscaya ia bisa keliru dan terjerumus dalam kesesatan. Sebagaimana kemaksiatan pertama yang dilakukan oleh makhluk terhadap Rabbnya, ketika Iblis diperintah untuk sujud kepada Adam ‘alaihissalam sebagai tanda penghormatan kepada Adam, Iblis enggan karena ia merasa lebih mulia dan lebih tinggi daripada Adam. Ia diciptakan dari api sementara Adam dari tanah. Menurut akal Iblis, api itu lebih mulia daripada tanah.

    “Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api sementara dia Engkau ciptakan dari tanah liat.” (Al-A’raf: 12)
    Dengan begitu, akal perlu dibimbing oleh wahyu dan harus tunduk dengan wahyu, karena wahyu itu dari firman Allah dan perkataan-Nya yang suci sementara akal adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Karena akal itu terbatas, syariat menetapkan ia tidak boleh berdalam-dalam membahas perkara yang tidak mungkin dijangkau, seperti di antaranya memikirkan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hakikat-Nya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَ لاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا
    “Ilmu mereka (makhluk) tidak dapat meliputi Allah.” (Thaha: 110)

    Selain itu juga wahyu dan akal yang sehat tidaklah saling bertentangan. Wahyu sebagai dasar pijakan, timbangan dan pengoreksi akal ketika ia menyimpang dari kebenaran. Dengan begitu akal harus menganggap baik apa yang dianggap baik oleh syariat dan mengganggap jelek apa yang dianggap jelek oleh syariat. Akal seperti inilah yang dikatakan akal sehat.

    Agama Bukan dari Akal Pikiran
    Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata: “Agama ini datang dari Allah tabaraka wa ta`ala, bukan dari akal dan pendapat manusia. Ilmunya dari sisi Allah melalui Rasul-Nya, maka janganlah engkau mengikuti agama dengan hawa nafsumu yang menyebabkanmu terpisah dari agama hingga engkau keluar darinya. Tidak ada dalil bagimu untuk menolak syariat dengan akal atau hawa nafsu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan agama ini (As Sunnah) kepada para shahabat. Para shahabat adalah Al-Jama’ah dan As-Sawadul A’zham. As-Sawadul A’zham adalah kebenaran dan orang yang berpegang dengannya.” (Syarhus Sunnah, hal. 66)

    Yang Berbicara Agama dengan Akal adalah Penghujat Allah dan Rasul-Nya
    Para perusak agama dari kalangan aqlaniyyun menempatkan akal di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Nama kelompok mereka bisa berbeda-beda namun sama dalam sikap memposisikan akal mereka. Satu dari sekian kelompok tersebut yang sekarang ini para da’inya sedang berteriak-teriak memasarkan kesesatannya di negeri ini adalah kelompok yang diistilahkan Jaringan Islam liberal (JIL) [2] ataupun yang sejenis pemikirannya. Orang-orang dalam jaringan ini berbicara tentang agama seenak perut mereka dan menurut akal-akalan mereka, tidak dilandasi dengan Al Qur’an, tidak pula dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan tidak pula dengan bimbingan para ulama pendahulu kita yang shalih.

    Padahal posisi keilmuan mereka terhadap agama ini sangat memprihatinkan. Bahkan kebanyakan mereka adalah orang-orang bodoh namun tidak tahu bahwa dirinya bodoh. Walaupun ada di antara mereka yang bergelar profesor, doktor dan gelar kesarjanaan lainnya, namun mereka tidak paham sama sekali terhadap agama Allah ini. Sekilas kami membaca apa yang mereka tulis dalam buku-buku mereka dan juga dalam situs mereka di internet. Sungguh kita tidak mendapatkan dalil. Mungkin ada penyebutan dalil, namun tidak pada tempatnya atau apa yang dibawakan itu lemah dari sisi ilmu riwayah wa dirayah.

    Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Terlebih lagi dalam ilmu hadits, ilmu yang mulia ini mereka tidak paham sama sekali sehingga biasa kita dapati mereka menolak hadits dengan perkataan yang membuat tertawa orang awam terlebih lagi orang yang alim, seperti ketika mereka menolak hadits-hadits tentang jilbab dinyatakan hadits-haditsnya ahad (Kritik atas Jilbab, situs JIL, 4/6/2003).
    Mereka membantah Al Qur’an dengan akal mereka atau dengan ucapan orang kafir. Begitu pula terhadap hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan mereka menghinakan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Demikian kenyataan yang ada pada kelompok sesat antek-antek Yahudi ini. Jangankan orang rendahan mereka, orang yang ditokohkan di kalangan mereka sebagai da’i mereka, seperti Ulil Abshar Abdalla, kenyataan sesungguhnya adalah orang yang bodoh. Jangankan terhadap syariat, dalam masalah bahasa Arab pun terlihat kedunguannya. Satu contoh, ketika ia ditantang untuk mubahalah (saling berdoa agar dilaknat Allah bagi yang berdusta) dalam satu seminar di Bandung, ia mengelak dengan beralasan bahwa mubahalah itu berarti mengajak goblok, karena mubahalah itu dari kata bahlul (goblok).
    Lihatlah kebodohan orang ini. Tidakkah kau tahu, Rasulullah pernah diperintah oleh Allah untuk menantang mubahalah kepada ahlul kitab, apakah mungkin dikatakan Allah menyuruh Nabi-Nya berlaku goblok?!!

    “Maka siapa yang mendebatmu dalam perkara ini setelah datang kepadamu ilmu maka katakanlah: “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan (panggil pula) anak-anak kalian, (kami panggil) istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian marilah kita bermubahalah dan kita mohon kepada Allah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali ‘Imran: 61)

    Bila dalam bahasa saja orang semacam ini ketahuan bodohnya lalu apatah lagi dalam masalah syariat. Orang sebodoh ini berniat menyusun kitab tafsir Al Qur’an (Situs JIL, 12/1/2004), maka tentu kita akan bertanya kepadanya, dengan ilmu apa dia akan menulis tafsir? Adakah pengetahuan dia dalam masalah ini, ataukah ia kembali pada hawa nafsunya dan pada ucapan najis orang-orang kafir/orientalis yang punya hasad kepada Islam dan muslimin?

    Catatan Hitam Penghujat Allah dan Rasul-Nya
    Catatan-catatan yang dibawakan di sini tidaklah secara keseluruhan mengingat keterbatasan halaman yang ada, sehingga hanya kita bawakan beberapa di antaranya beserta bantahan singkat terhadap mereka:
    – Mereka menganggap hukum Islam itu zalim sehingga bila diterapkan syariat Islam yang pertama jadi korban adalah kaum wanita (situs JIL, 16/9/2001). Padahal justru hukum di luar Islamlah yang zalim, sementara hukum Allah adalah seadil-adil dan sebaik-baik hukum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki padahal hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50)
    – Mereka menggugat kebenaran Islam karena kata mereka kebenaran agama itu relatif (situs JIL, 24/8/2002). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih agama Islam ini sebagai agama yang Dia ridhai:
    وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا
    “Dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)
    Adakah seorang yang beriman akan meyakini bahwa Allah meridhai Islam yang belum tentu kebenarannya? Na’udzubillah min dzalik.
    – Mereka menyamakan semua agama. Jelas hal ini menyelisihi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ ألإِسْلاَمُ
    “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
    “Siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima agama itu darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
    – Mereka mengajak melihat kebenaran pada agama lain, tanpa menganggap hanya Islam agama yang benar (Zuly Qodir, Islam Liberal, hal. 134, Sufyanto, Masyarakat Tamaddun, hal. 138-143). Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan dengan gamblang kekafiran orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim lainnya:
    “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putera Maryam,’ padahal Al-Masih sendiri bekata: ‘Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah an-naar, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali sesembahan yang satu (Allah). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 72-73)
    – Nurcholis Majid membatasi musyrikin dengan para penyembah berhala Arab sementara paganis India, China dan Jepang dimasukkannya sebagai ahli kitab karena dianggap memiliki kitab suci yang intinya tauhid, sehingga agama yang tidak diterima disisi Allah hanyalah agama penyembah berhala Arab. (Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, Ulil Abshar Abdalla, situs JIL). Ketahuilah, musyrikin itu adalah semua orang yang menyekutukan Allah dalam peribadatan sehingga paganis India, China dan Jepang ataupun selainnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani, semuanya itu musyrikin.
    – Lontaran yang dilemparkan oleh Ulil Abshar Abdalla juga tak kalah sesatnya. Dalam harian Kompas, terbitan Senin 18-10-2002, ia menulis artikel Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam yang isinya ia membagi syariat Islam menjadi ibadah dan muamalah. Yang ibadah untuk diikuti, sedang yang muamalah seperti berjilbab, pernikahan, jual beli, hukum qishash, dsb, tidak usah diikuti. Ia menyatakan Islam adalah nilai generis yang bisa ada di Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, dan bisa jadi kebenaran Islam ada dalam filsafat Marxisme. Ia juga menghina dan mengolok-olok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa Rasulullah adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya). (situs JIL, 18/11/2022). Memang orang bodoh ini tidak memahami firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    “Dan jika engkau tanyakan kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan itu, tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian berolok-olok?’ Tidak perlu kalian minta udzur karena kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (At-Taubah: 65-66)
    – Si Ulil ini pula dengan lancangnya menganggap halal apa yang diharamkan oleh Allah I seperti pernyataannya bahwa vodka (sejenis minuman keras) bisa dihalalkan di Rusia karena daerahnya sangat dingin. Padahal dalam kasus yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Dailam Al-Himyari tentang minuman memabukkan yang diminum untuk mengatasi hawa dingin di daerah yang sangat dingin, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Bahkan mereka yang tidak mau berhenti meminumnya diperintahkan untuk dibunuh (HR. Ahmad, 4/231, dishahihkan oleh guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’us Shahih, 1/122-123).
    – Sama pula nyeleneh-nya ucapan Prof. Dr. Said Aqiel Siradj yang menyatakan agama Yahudi, Kristen dan Islam semuanya membawa misi tauhid.
    – Demikian pula ucapan DR. Jalaluddin Rakhmat bahwa kafir itu bukanlah label aqidah dan keyakinan namun merupakan label moral (situs JIL, 15/9/2003).
    • Mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dengan mencintai dan mengagumi pemikiran mereka, sehingga orang-orang ini bangga bisa menimba ilmu di negeri Barat (situs JIL, 8/3/2004). Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai kekasih/ teman dekat kalian, karena sebagian mereka adalah kekasih bagi yang lainnya. Siapa di antara kalian yang loyal terhadap mereka maka sungguh ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 51)

    Catatan-catatan hitam yang ada ini tak jauh dari apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah ketika memberikan gambaran tentang kaum munafiqin:
    “Mereka itu telah berpaling dari Al Qur’an dan As-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan orang yang berpegang dengan keduanya. Mereka menolak untuk terikat dengan hukum dua wahyu tersebut karena merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka dari ilmu yang sebenarnya tidaklah bermanfaat banyaknya ilmu tersebut bagi diri mereka, kecuali hanya menambah kejelekan dan kesombongan. Maka engkau lihat mereka selama-lamanya berpegang teguh untuk mengolok-olok wahyu yang pasti.
    الله يستهزئ بهم و يمدهم في طغيانهم يعمهون
    “Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang ambing dalam kesesatan mereka yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 15) [Shifatul Munafiqin, hal. 7]

    Hukuman bagi Penghujat Allah dan Rasul-Nya
    Dengan sebagian catatan hitam yang telah dituliskan, maka wajib bagi penguasa kaum muslimin memberikan hukuman yang keras bagi pengikut hawa nafsu ini dalam rangka menunaikan nasehat terhadap agama Allah. Kalau perlu ditangkap, maka ditangkap. Atau dipenjara, dipukul, diasingkan, ataupun dipenggal lehernya dan hendaknya jangan diberikan keringanan sebagai peringatan akan bahaya perbuatan hawa nafsu yang mengkaburkan agama Allah.

    Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syari’ah, bab Hukuman yang diberikan Al-Imam dan Penguasa kepada penghujat Allah dan Rasul-Nya (pengikut hawa nafsu) mengatakan: “Sepantasnya bagi pemimpin kaum muslimin dan para gubernurnya di setiap negeri bila telah sampai padanya kabar yang pasti tentang pendapat/madzhab seseorang dari pengikut hawa nafsu yang menampakkan pendapat/madzhabnya tersebut, agar menghukum orang tersebut dengan hukuman yang keras. Siapa di antara pengekor hawa nafsu itu yang pantas untuk dibunuh maka dibunuh. Siapa yang pantas untuk dipukul, dipenjara dan diperingatkan maka dilakukan hal tersebut padanya. Siapa yang pantas untuk diusir maka diusir dan manusia diperingatkan darinya.”
    Bila ada yang bertanya: “Apa argumen perkataanmu itu?”
    Maka dijawab dengan jawaban yang tidak akan ditolak oleh para ulama yang Allah memberikan manfaat dengan ilmunya. Lihatlah bagaimana ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu mencambuk Shabigh At-Tamimi [4] dan beliau menulis surat pada para pegawai beliau agar mereka memerintahkan Shabigh berdiri di hadapan manusia hingga Shabigh ini mengumumkan kejelekan dirinya.
    ‘Umar juga menetapkan larangan kepada manusia untuk memberi sesuatu pada Shabigh dan manusia diperintah pula untuk memboikotnya (tidak mengajaknya bicara, tidak duduk bersamanya). Demikianlah keadaan Shabigh seterusnya ia hina di tengah-tengah manusia.

    Lihat pula Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Di Kufah ia membunuh sekelompok orang yang mengaku-aku bahwa Ali adalah tuhan mereka. Ali menggali parit untuk mereka lalu membakar mereka dengan api.
    Begitu pula ‘Umar ibnu Abdil ‘Aziz menulis surat kepada ‘Adi ibnu Arthah berkenaan dengan kelompok Qadariyyah [5]: “Engkau minta mereka untuk bertaubat dari pemahaman sesat mereka. Bila mereka mau maka diterima taubatnya, bila tidak maka penggallah leher mereka.”
    Adapun Hisyam bin Abdil Malik (dari kalangan umara Bani Umayyah) telah memenggal leher Ghailan [6] dan menyalibnya setelah ia memotong tangan Ghailan.

    Demikian pula yang terus menerus berlangsung, para penguasa setelah mereka pada setiap zaman berbuat demikian terhadap pengekor hawa nafsu. Bila telah pasti hal itu di sisi mereka, mereka pun memberikan hukuman pada si pengekor hawa nafsu tersebut dengan hukuman yang sesuai dengan apa yang mereka pandang, sementara para ulama tidak mengingkari perbuatan penguasa tersebut. (Kitab Asy-Syariah, Al-Al-Imam Al-Ajurri, hal. 967-968) [7]

    Penutup
    Terlalu banyak yang bisa kita tuliskan dan paparkan untuk membongkar kesesatan kelompok akal-akalan seperti JIL ini. Sebagaimana yang kami sebutkan di atas, sampah kesesatan yang mereka muntahkan kepada umat tidak dibangun di atas dalil sedikitpun. Semoga tulisan ini membuka mata hati masyarakat kita untuk mewaspadai kelompok-kelompok sesat yang ada agar mereka mencari jalan keselamatan dengan kembali kepada agama Allah I dan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

    Footnote :
    1. Berbeda halnya dengan hewan yang tidak diberikan akal oleh Allah maka hewan tidak dibebani dengan perintah-perintah dan larangan-larangan syariat.
    2. Namun nama yang sepantasnya buat mereka adalah Jaringan Sesat Pengkaburan dan Pembinasa Islam yang disokong dan dikoordinasi oleh kuffar Yahudi.
    4. Shabigh ini suka mempertanyakan ayat-ayat yang mutasyabihah.
    5. Qadariyyah adalah kelompok yang sesat dalam memahami taqdir Allah. Mereka mengatakan bahwa af‘alul ‘ibaad (perbuatan-perbuatan hamba) terjadi semata-mata karena iradah (kehendak) dan qudrah (kemampuan) makhluk, tidak ada di dalamnya pengaruh iradah dan qudrah Allah. (Syarhu Tsalatsatil Ushul, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 116)
    Sehingga hamba berbuat sekehendak mereka, dengan iradah dan qudrah mereka, dan bukan karena Allah yang menghendaki mereka untuk berbuat.
    6. Ghailan ini berbicara tentang taqdir dengan pemahaman yang sesat. (Asy-Syariah, hal. 970)
    7. Inilah yang menimpa setiap pengekor hawa nafsu. Bila mereka yang memikul kesalahan sedemikian rupa harus menanggung hukuman-hukuman yang sedemikian berat, maka bagaimana kiranya orang yang keluar dari mulutnya ucapan-ucapan kufur, penghinaan dan pengolok-olokan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya.

  7. Komentar atas artikel menyegarkan pemahaman Islam oleh ulil abshar abdalla

    Pertama kali membaca artikel ini, saya merasa tulisannya ko bernada menjelekkan agama islam. Padahal yang menulis ini adalah orang islam sendiri. Yang salah tulisannya apa orangnya nih. ada beberapa kosakata yang harus saya cari makna dan isinya dikarenakan keterbatasan ilmu yang saya punya seperti kata-kata substansial, kontekstual dan lainnya.

    Apa yang saya komentarin disini adalah berdasarkan ilmu yang pernah saya dapat disekolah maupun kajian2 yang saya ikuti. Yang tentunya masih banyak terdapat kekurangan di sana-sini. Langsung kepada pokok bahasannya .

    Alinea pertama berbunyi,” agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia (dalam kalimat ini saya setuju banget!!, sampai pada kalimat)….yang ada adalah hukum manusia bukan hukum Tuhan, karena manusialah stakeholder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini. Wah, ga ada hukum Tuhan!! Kalo ga ada hukum Tuhan manusia bisa seenaknya sendiri bikin peraturan, yang kuat bakalan menindas yang lemah, yang punya kekuasan bakal menyingkirkan orang yang menentangnya. Berarti hukum zakat, puasa, haji yang berdasarkan pada hukum Tuhan bakalan dihilangkan karena ada hukum manusia yang menggantikannya. Wah, ini mah berabe namanya.

    Saya mengutip ayat ini sebagai jawabannya,“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka ingin berhukum kepada thagut (hukum buatan manusia), padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thagut itu. Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah kamu tunduk kepada (hukum) yang allah turunkan dan kepada (hukum) Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dari (mengikuti) kamu dengan sekuat-kuatnya.” (An-Nisaa: 60-61)

    beberapa kalimatnya lagi yaitu;
    >>Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan sesuai dengan denyut nadi peradaban yang sedang dan akan berubah,
    Kedua. Penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur didalamnya yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam islam yang merupakan pengaruh kultur arab dan mana yang tidak”

    Berarti agama islam bisa dong mengikuti tafsiran orang2 barat tanpa adanya tuntunan yang syari yang mengikuti pemahaman Alquran dan sunnah. wanita bisa saja berkilah memakai pakaian yang sexy itu boleh2 saja karena peradaban atau zaman sekarang lagi trendy, lagi in-in nya. Wanita sekali lagi juga bisa dong mendapatkan harta warisan yang sama besar dengan laki-laki, kan sekarang lagi zamannya emansipasi wanita. Saya melihat ulil dengan mudahnya menempatkan Islam hanya pada satu sisi yaitu budaya arab. Memang Islam datang dari arab tapi bukan berarti budaya arab juga budaya Islam. Budaya yang tidak bertentangan dengan Islam saja yang boleh dilakukan, yang tidak ya buang saja.

    >>“aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan arab misalnya, tidak usah diikuti. Contoh soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal particular Islam di arab”
    Kayaknya ulil belum membaca Alquran yang isinya
    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita,….(Al-Baqoroh: 178)
    “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al Maa-dah:38)
    Disini Allah sendiri yang mewajibkan adanya jilbab dan qishash. Jika ulil tidak mau menerima perintah ini, maka tidak heran jika suatu saat nanti ulil juga menolak perintah shalat, puasa dan zakat. Dia mengambil sebagian perintah dan membuang sebagian lagi berdasarkan pada akal nya sendiri.
    >>Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum.
    Jika yang dirunut adalah standar kepantasan umum maka memakai koteka dan bertelanjang dada bagi seorang wanita adalah sah-sah saja karena di irian orang-orang seperti ini merasa pantas mengenakannya. Analoginya jika kita ke irian maka maukah kita memakai koteka jika sandarannya adalah kepantasan umum?
    >>Bagaimana meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran semacam ini? menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis,(sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti.
    Wah, dirinya saja belum tentu bersih sudah mau mengkritik seorang mulia yang memang sudah pasti masuk surga. Allah telah memilih Rasulullah SAW sebagai pembawa berita gembira, pemberi peringatan dan sekaligus rahmat sekalian alam. Dan segala tingkah lakunya terjaga dari dosa dan kemaksiatan, apakah hal ini yang mau kita kritisi? Apalah arti kita dibanding dengan Rasulullah SAW, jangankan dengan Rasulullah SAW sendiri dengan sahabat-sahabat beliau pun kita tak ada artinya sama sekali. Jadi sebelum mengkritisi orang lebih baik instropeksi diri dulu, sudah sejauh mana tingkat taqwa kita.
    .Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali-Imran:31)
    Dari sekian banyak tulisan di artikel ini hampir tidak ada ayat AlQuran dan hadits yang dicantumkan. Jikalau ada ditafsirkan dengan serampangan seperti
    >>Ayat Innaddina ‘indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar).”
    Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu.
    Allah telah menjelaskan bahwa; “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (Al-Imran 19).
    “Barang siapa mencari agama selain agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-Imran 85).
    Analoginya, jika semua agama benar kenapa ulil tidak memilih agama lain saja, ga usah ngerepotin orang islam dengan tulisan-tulisan yang memancing kemarahan umat. Kenapa ga buat jaringan Kristen liberal saja, atau jaringan hindu liberal toh menurut dia kan agama semuanya benar.
    Rasanya ulil hanya menafsirkan AlQuran hanya dengan akalnya saja padahal Allah menciptakan akal dengan segala keterbatasannya sangat sulit mencerna ilmu Allah jika tidak dilandasi dengan AlQuran dan hadits. Bila akal dilepaskan saja tanpa adanya bimbingan yang shari maka ia akan terjerumus kelubang kesesatan seperti apa yang di alami oleh iblis laknatullah alaih saat membangkang perintah Allah untuk sujud kepada nabiullah Adam as karena merasa lebih mulia sebab ia diciptakan dari api ketimbang Adam as yang hanya dari tanah.
    “Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api sementara dia Engkau ciptakan dari tanah liat.” (Al-A’raf: 12)
    Dengan begitu, akal perlu dibimbing oleh wahyu dan harus tunduk dengan wahyu, karena wahyu itu dari firman Allah dan perkataan-Nya yang suci sementara akal adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Kesimpulannya bahwa artikel ini benar-benar berbahaya bagi kalangan awam apalagi orang yang baru masuk Islam, jika tidak ada orang yang mengkonternya maka suatu saat pemikiran model begini bakalan jadi acuan orang-orang awam. Sekedar tambahan bahwa ulil ini menempuh studi di negeri barat yang notabene kebencian terhadap Islam tak diragukan lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: